Photobucket
Tampilkan postingan dengan label BUDAYA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label BUDAYA. Tampilkan semua postingan

UNDANGAN TERBUKA ANTOLOGI PUISI 100 PENYAIR UNTUK PELACUR Oleh Komunitas Sanggar Gladakan Tuban

Jumat, 13 Januari 2012 | 0 komentar


Oleh Laskar Pemimpi Menulis pada 12 Januari 2012 pukul 0:46 

SERINGKALI kita menganggap bahwa seorang pelacur adalah mereka yang tak berbudi, bernaluri hewani, bahkan tak punya harga diri. Sebuah pertanyaan yang harus kita garis bawahi dan jawab bersama; apakah mereka (yang mengatakan pelacur sama dengan hewan) lebih baik dari seorang pelacur? bagaimana bila mereka berada dalam posisi sebagai seorang pelacur?

Pelacur juga punya hak hidup, menyampaikan aspirasi, dan bersosial dengan yang lain. lantas apakah kita akan bisa menerima mereka dalam hidup ini kalau kita meng-klaim bahwa mereka adalah segerombolan hewan yang berwajah manusia.

Berangkat dari itulah kami dari Komunitas Sanggar Gladakan mengundang teman-teman dalam antologi puisi 100 PENYAIR UNTUK PELACUR. Mari kita angkat martabat saudara-saudara kita itu dari kaleng-kaleng paradigma kotor, stigma-stigma negative yang memvonis sebagai sampah masyarakat. Dan mari kita sandingkan mereka sejajar dengan kita.

Ketentuan Umum:
  • peserta adalah mereka yang peduli terhadap masalah-masalah sosial
  • tidak ada batasan usia dan jenjang pendidikan
  • terbuka untuk umum baik penulis dalam negeri maupun luar negeri
Ketentuan Khusus:
  1. Naskah belum pernah dipublikasikan di media cetak, elektronik & online.
  2. Puisi tidak sedang diikutkan dalam sayembara atau sudah diterbitkan dalam antologi lainya.
  3. Puisi adalah karya asli, bukan saduran, bukan jiplakan atau plagiat.
  4. Puisi minimal satu kata.
  5. Naskah diketik dengan komputer di atas kertas A4 dengan jarak spasi 1,5. Times New Roman, panjang naskah maksimal 2 halaman.
  6. Peserta menyertakan biodata narasi dan alamat lengkap yang ditempatkan pada bagian akhir puisinya, serta foto terbaru di file terpisah (di attach file kirim email).
  7. Memiliki akun FB dan memposting info undangan ini di catatan FB masing-masing dengan mengetag teman minimal 25 teman beserta Komunitas Sanggar Gladakan Tuban.
  8. Peserta hanya boleh mengirim maksimal 3 pusi terbaiknya.
  9. Naskah di kirim ke email: sanggargladakan@yahoo.co.id dengan subjek email:PUISI_AKU DAN PELACUR
  10. Naskah dikirim paling lambat 10 Pebruari 2012 pukul 23.59 WIB.
  11. Pengumuman puisi terpilih pada tanggal 15 Februari 2012.
  12. Panitia hanya mememilihl 2 puisi terbaik dari masing-masing penyair.
  13. Panitia hanya memilih 100 penyair yang akan dibukukan oleh panitia.
Tema Puisi:
Pelacur; mereka sama dengan kita.

Selamat Berkarya
Salam Komunitas

Budaya Tabuh Lesung Tuban

Minggu, 04 Desember 2011 | 0 komentar



WARGA Desa Kembangbilo, Kecamatan Tuban, menggelar pesta unik setiap mengawali sebuah hajatan. Tradisi tabuh lesung ini merupakan tradisi turun temurun dan ditujukan sebagai pengumuman atau woro-woro ke para tetangga. Selain itu, tradisi ini dipercaya agar hajatan yang digelar berjalan dengan lancer.

Jika selama ini menabuh lesung hanya dilaksanakan saat panen, namun di Tuban, tradisi ini juga dilakukan untuk mengawali sebuah acara hajatan.

Lesung yang biasanya digunakan petani untuk menumbuk padi ini, berubah menjadi alat musik yang merdu didengar. Bahkan suara lesung ini bisa di dengar dari jarak yang cukup jauh.

Sebagai tradisi, dengan adanya tabuh lesung ini maka masyarakat sekitar akan segera mengetahui jika ada warga yang tengah melaksanakan hajatan.

Bahkan tabuhan lesung ini memiliki irama yang bervariasi. Variasi irama tabuh lesung ini dimainkan secara berurutan, mulai dari kontang, jangan kentang, jiduran, ngalilit, petuk, dan beberapa jenis irama lainnya.

Menurut pemilik hajat, Sutono, tradisi tabuh lesung ini merupakan warisan leluhur sejak ratusan tahun lalu. Bahkan secara turun-temurun, tradisi ini diupayakan untuk tetap lestari.

Selain sebagai awal acara hajatan, tradisi tabuh lesung ini dilaksanakan untuk mengiringi proses pembuatan jenang. Jenang yang dibuat sejak awal hajatan ini dibuat untuk dibagikan ke seluruh warga desa.

Iringan tabuh lesung ini dipercaya mampu memperlancar proses pembuatan jenang dan acara hajatan yang dilaksanakan. (Cak Yus Ronggolawe)

Bulan Suro Tahun Baru Jawa, Esensi dan Awal Mulanya

Minggu, 27 November 2011 | 1 komentar

UMUMNYA masyarakat menjelang tahun baru, misalnya Tahun Baru Masehi,banyak melakukan kegiatan  untuk menyambutnya. Kegiatan tersebut biasanya tidak terlepas dari upaya introspeksi dan harapan-harapan.

Begitu juga ketika menjelang Tahun Baru Jawa yang jatuh pada bulan Suro, tentunya masyarakat Jawa pun ingin mempunyai harapan-harapan yang lebih baik di tahun baru dan tentunya juga melakukan introspeksi terhadap tindakan di masa lalu.

Esensi Bulan Suro pada Masyarakat Jawa


Bulan Suro sebagai awal tahun, bagi masyarakat Jawa dianggap bulan yang sakral, karena dianggap bulan
yang suci, bulan untuk melakukan perenungan, bertafakur, berintrospeksi, mendekatkan diri kepada Sang Khalik. Cara yang dilakukan biasanya disebut dengan laku, yaitu mengendalikan hawa nafsu dengan hati yang ikhlas untuk mencapai kebahagiaan dunia akhirat.

Namun kalau dicermati, esensi tradisi di bulan Suro yang dilakukan oleh masyarakat Jawa adalah sebagai upaya untuk menemukan jati dirinya agar selalu tetap eling lan waspada. Eling artinya harus tetap ingat siapa dirinya dan dari mana sangkan paraning dumadi 'asal mulanya', kedudukannya sebagai makhluk Tuhan, tugasnya sebagai khalifah manusia di bumi baik bagi diri sendiri maupun orang lain.

Waspada, artinya harus tetap cermat, terjaga, dan waspada terhadap segala godaan yang sifatnya menyesatkan. Karena sebenarnya godaan itu bisa menjauhkan diri dari sang Pencipta, sehingga dapat menjauhkan diri mencapai manunggaling kawula gusti 'bersatunya makhluk dan Khalik'.

Keyakinan semacam ini masih banyak diyakini dan dianut oleh sebagian masyarakat Jawa. Namun masyarakat modern sering memandang secara negatif. Suro dikaitkan dengan paham syirik dan kemusrikan. Anggapan seperti itu timbul karena disebabkan kurangnya pemahaman sebagian masyarakat akan makna yang mendalam di baliknya.

Memang menjadi persoalan ketika melihat manifestasi dari perbuatan. Pada bulan Sura banyak orang melakukan ritual-ritual tertentu sebagai media introspeksi biasanya banyak caranya. Ada yang melakukan laku dengan cara nenepi 'meditasi untuk merenung diri' di tempat-tempat sakral  seperti di puncak gunung, tepi laut, makam, gua, pohon tua, dan ada juga yang melakukan dengan cara lek-lekan 'berjaga hingga pagi hari'.

Dari sudut pandang agama, ritual ini jelas sebentuk sinkretisme. Namun, apakah kita pernah melihat ritual-ritual ini dalam makna yang terkandung di dalamnya?

Masyarakat Jawa mempunyai kesadaran makrokosmos. Dalam kesadaran ini diamini bahwa Tuhan menciptakan kehidupan di alam semesta ini mencakup berbagai dimensi yang fisik (wadag) maupun metafisik (gaib). Kedua dunia ini saling berinteraksi. Interaksi antara dimensi alam fisik dengan dimensi metafisik merupakan interaksi yang saling mengisi mewujudkan keselarasan dan keharmonisan alam semesta.

Selain kesadaran makrokosmos ada kesadaran lain, yaitu kesadaran mikrokosmos. Manusia merupakan bagian dari mikrokosmos itu. Manusia sebagai bagian dari mikrokosmos memiliki peranan besar dalam menjaga keseimbangan makrokosmos karena manusia dikarunia akal budi.

Kesadaran akan makrokosmos membawa kesadaran lain bahwa manusia bukanlah segalanya di hadapan Yang Maha Tinggi, dan dibanding mahluk lainnya. Manusia tidak seyogyanya mentang-mentang mengklaim dirinya sendiri sebagai mahluk paling sempurna dan mulia, hanya karena akal-budinya. Akal budi adalah pisau bermata dua. Di satu sisi, manusia dapat mencapai kepenuhan karena akal budinya. Di sisi lain, manusia bisa tersesat juga karena akal budinya.

Berdasarkan dua dimensi kesadaran itu, tradisi Jawa memiliki prinsip hidup yakni pentingnya untuk menjaga
keseimbangan dan kelestarian alam semesta agar supaya kelestarian alam tetap terjaga sepanjang masa. Menjaga kelestarian alam merupakan perwujudan syukur tertinggi umat manusia kepada Sang Hyang Murbeng Dumadi.

Cara pandang tersebut membuat masyarakat Jawa memiliki tradisi yang unik dibanding dengan masyarakat Indonesia pada umumnya. Sebagai bagian makrokosmos, manusia memiliki tanggung jawab untuk menjaga keseimbangan kosmos.

Keseimbangan kosmos itu tidak hanya sebatas apa yang dapat dilihat dilihat menurut mata telanjang manusia.
Kosmos memiliki dua dimensi, yakni fana/wadag atau fisik, dan lingkungan dimensi gaib atau metafisik.
Kepekaan batin adalah kunci untuk mengerti dan memahami dimensi metafisik.

Harmoni alam merupakan cita-cita manusia. Untuk menggapai harmoni alam itulah, sebagian masyarakat Jawa
melakukan ritual-ritual tertentu. Seringkali orang salah memberikan penilaian karena hanya melihat sebatas yang terlihat dan memberikan penilaian seturut norma atau nilai yang dianutnya. Padahal jika kita mau masuk ke dalamnya, kita akan menemukan nilai yang melebihi dan melampaui keimanan kita sendiri. Ritual yang dibuat merupakan kristalisasi dari kesadaran manusia akan keseimbangan kosmos. Dalam ritual-ritual yang dibuat, terkandung nilai-nilai yang luar biasa mendalam.

Pertama, keyakinan dasar akan Sang Hyang Murbeng Jagad. Dalam melaksanakan ritual, hati manusia tetap teguh pada keyakinan bahwa Tuhan adalah Maha Tunggal, dan tetap mengimani bahwa Tuhan Maha Kuasa menjadi satu-satunya penentu kodrat.  Masyarakat Jawa kuno yang mewariskan nilai-nilai itu hingga sekarang tentu memiliki kosakata tersendiri untuk menyebut Tuhan. Meskipun masyarakat Jawa kuno tidak memiliki kata Tuhan, namun mereka memiliki keyakinan akan kekuatan dari luar diri mereka yang memiliki kuasa mutlak atas hidup manusia.

Kedua, nilai filosofi. Ritual-ritual yang dibuat selama bulan Sura merupakan simbol kesadaran makrokosmos yang bersifat horisontal, yakni penghargaan manusia terhadap alam. Disadari bahwa alam semesta merupakan sumber penghidupan manusia. Oleh karena itu, kosmos harus dijaga demi kelangsungan kehidupan generasi penerus atau anak turun kita. Kelestarian alam merupakan warisan paling berharga untuk generasi penerus. Nilai inilah yang makin hari makin luntur. Alam dieksploitasi sedemikian rupa sehingga kesimbangan alam terganggu: banjir bandang, tanah longsor, dan aneka peristiwa alam yang menunjukkan terganggunya harmoni kosmos.

Aneka ritual bulan Sura merupakan bentuk interaksi harmonis antara manusia dengan seluruh unsur alam semesta. Disadari pula bahwa manusia hidup di dunia berada di tengah-tengah lingkungan jagad fisik maupun jagad metafisik.

Kedua dimensi jagad tersebut saling bertetanggaan, dan keadaannya pun sangat kompleks. Manusia dan seluruh makhluk ciptaan Tuhan seyogyanya menjaga keharmonisan dalam bertetangga, sama-sama menjalani kehidupan sebagai makhluk ciptaan Tuhan. Sebaliknya, bilamana dalam hubungan bertetangga (dengan alam) tidak harmonis, akan mengakibatkan situasi dan kondisi yang destruktif dan merugikan semua pihak. Maka seyogyanya jalinan keharmonisan sampai kapanpun tetap harus dijaga.

Ada nilai luhur dan agung dalam aneka bentuk ritual yang dibuat selama bulan Sura. Tahun baru Jawa mengajak kita bermenung tentang peran manusia mengemban titah Sang Hyang Murbeng Jagad untuk menjaga keseimbangan alam. Tatanan alam perlu dijaga demi keberlangsungan hidup manusia itu sendiri.

Asal Mula Tahun Baru 1 Suro

Tahun Jawa memiliki kesamaan dengan Tahun Hijriyah terutama mengawali tanggal dan bulannya. Perbedaannya terletak pada istilah penyebutan nama bulan. Tahun Hijriyah menyebut bulan Muharram atau Asyuro, sementara Tahun Jawa menyebut bulan Suro.

Kesamaan keduanya ternyata dapat ditelusuri dari sejarah kerajaan Mataram Islam di bawah kekuasaan pemerintahan Sultan Agung (1613-1645 Masehi). Ketika itu di masyarakat Jawa, tahun yang menjadi pegangan masyarakat pada zamannya adalah Tahun Saka yang berdasarkan peredaran matahari. Sementara bagi umat Islam sendiri menggunakan Tahun Hijriyah.

Pada waktu Sultan Agung berkuasa, Islam telah diakui menjadi agama di lingkungan istana Mataram Islam.
Maka untuk tetap meneruskan penanggalan Tahun Saka yang berasal dari leluhurnya, dan ingin mengikuti penanggalan Tahun Hijriyah, maka Sultan Agung membuat kebijakan mengubah Tahun Saka menjadi Tahun Jawa.

Maka ketika tahun 1555 Saka, oleh Sultan Agung diganti menjadi tahun 1555 Jawa dan berlaku untuk masyarakat pengikutnya. Sementara penetapan tanggal dan bulannya disamakan dengan tanggal dan bulan Tahun Hijriyah. Berarti tanggal 1 Suro 1555 Tahun Jawa sama dengan tanggal 1 Muharram 1043 Hijriyah dan bertepatan pula dengan tanggal 8 Juli 1633 Masehi.

Nama-nama bulan pada Tahun Jawa pun dibuat lain dan berbeda dengan nama-nama Tahun Hijriyah. Tentu saja disesuaikan dengan ucapan masyarakat Jawa. Seperti bulan Muharram (Tahun Hijriyah) = bulan Suro (Tahun Jawa), bulan Shafar = Sapar, bulan Rabi'ul Awal = Maulud, bulan Rabi'ul Tsani = Bakda Maulud, bulan Jumadil Ula = Jumadil Awal, bulan Jumadil Tsaniyah = Jumadil Akir, bulan Rajab = Rejeb, bulan Sya'ban = Ruwah, bulan Ramadhan = Pasa, bulan Syawwal = Sawal, bulan Dzulqa'dah = Dulkaidah, dan bulan Dzulhijjah = Besar.

Bulan Sepi Hajatan Pernikahan

Ternyata kesakralan bulan Suro membuat masyarakat Jawa sendiri enggan untuk melakukan kegiatan
yang bersifat sakral, misalnya hajatan pernikahan. Hajatan pernikahan di bulan Suro sangat mereka hindari.
Entah kepercayaan ini muncul sejak kapan, kita tidak tahu. Namun yang jelas, sampai sekarang pun mayoritas
masyarakat Jawa tidak berani menikahkan anak di bulan Suro.

Ada sebagian masyarakat Jawa yang percaya dengan cerita Nyi Roro Kidul, penguasa laut selatan (Samodra Hindia). Konon, ceritanya, setiap bulan Suro, Nyi Roro Kidul selalu punya hajatan atau mungkin menikahkan anaknya.

Setiap masyarakat Jawa yang punya gawe di bulan Suro ini, diyakini penganten atau keluarganya tidak akan mengalami kebahagiaan atau selalu mengalami kesengsaraan, baik tragedi cerai, gantung diri, meninggal, mengalami kecelakaan, atau lainnya. Entah kebenaran itu ada atau tidak, yang jelas masyarakat Jawa secara turun-temurun menghindari bulan Suro untuk menikahkan anak.(dari berbagai sumber/fri)

Batik Gedog Tuban Naik Kelas

Selasa, 08 November 2011 | 0 komentar

Jakarta -- Renske Heringa terlihat berhati-hati membentangkan sehelai kain batik gedog Tuban. Bermotif flora kembang berpadu sulur, batik berwarna merah menyala itu memukau perhatian peserta undangan diskusi Tradisi Pembatikan Kampung Kerek, Tuban, di Museum Tekstil Jakarta.

Perempuan setengah baya itu adalah peneliti independen dan pensiunan dari Universitas Leiden, Belanda. Ia meneliti batik di Indonesia sejak 1970. Bahkan untuk batik gedog Tuban, Heringa boleh disebut pemberi inspirasi yang membangkitkan kembali semangat batik Tuban hingga naik kelas ke pentas dunia.

Batik Tuban tercatat sebagai salah satu batik pesisiran yang mempunyai warna beragam. Menurut Heringa, batik Tuban mirip batik Cirebon. Kemiripan ini terlihat pada pencelupan warna merah dan biru.

Batik gedog sebenarnya hampir punah. Sebab, orang sudah tidak suka lagi memintal benang. Warga Desa Kampung Kedungrejo, Kerek, Kabupaten Tuban, tempat batik itu berasal, sudah tak membatik lagi. Kalaupun ada, hanya untuk mengisi waktu luang atau pekerjaan sampingan. "Pembuatannya memang rumit. Bukan sekadar membatik dengan lilin atau malam, tapi juga ada pemintalan atau menenun," ujar Heringa.

Uswatun Hasanah termasuk penerus batik gedog yang bertahan. Pemilik label batik tulis tenun gedog Tuban Sekar Ayu ini adalah penerus batik gedog generasi ketiga. "Saya bertahan karena mendapat inspirasi dan motivasi dari Heringa," katanya.

Menurut Uswatun, perempuan Belanda yang belajar ilmu antropologi dan budaya Jawa di Universitas Amsterdam dan Leiden itu mengajarkan filosofi mendalam. "Bukan sekadar pemaparan motif batik gedog yang membuat saya terpanggil untuk konsisten dan bertanggung jawab meneruskan pekerjaan ini," kata Uswatun.

Hasilnya? Sungguh menggembirakan, batik gedog dianggap unik. Batik ini dicari dan dianggap sesuai dengan selera masyarakat kelas menengah atas, termasuk turis mancanegara. Para pembatiknya kini sadar akan potensi batik di daerahnya itu.

Pameran batik gedog Tuban di beberapa kota dan mancanegara juga terlihat mempesona. Uswatun bahkan sering diminta mengajari pewarnaan batik gedog Tuban yang indah dan alami kepada beberapa perajin dari daerah lain.

Menurut Uswatun kegiatan membatik ini dibuat dalam tiga variasi, yakni kain tenun atau ukuran baku kain sepanjang 2 meter, kain 3 meter, dan ukuran khusus yang lebih kecil untuk selendang, syal, atau taplak. Selain panjang kain yang beragam, batik ini memiliki perbedaan kerapatan kain. Struktur tenunan yang merangkai kain akan menentukan bentuk perlakuan yang akan diterima kain selanjutnya.

Seperti kain seser, yang mempunyai kerapatan rendah dengan jalinan benang penyusun. Kain ini memiliki kerapatan rendah, sehingga terdapat celah antarbenang yang berbentuk kotak-kotak. "Kondisi ini mengakibatkan kain seser agak sulit diberi motif batik. Namun kain ini memiliki daya pikat dan kini mulai dikembangkan para perajin," ujarnya.

Menurut Heringa, batik gedog Tuban merupakan salah satu khazanah batik Nusantara. Kendati tidak setenar batik Solo, Yogyakarta, dan Pekalongan, batik ini memiliki makna, baik secara filosofis maupun kekuatan ekonomis. Motif dan pembuatannya yang unik merupakan ciri khas batik gedog Tuban. "Pemakaian benang yang kasar itu pesonanya," katanya. Jadi, janganlah memandang rendah kekasaran, karena di dalamnya ada kehalusan dan seni yang tinggi. Itulah batik Gedog Tuban. | HADRIANI P. | TEMPO Interaktif

Seniman dan Penari Tayub Ikuti Ritual Siraman

Kamis, 13 Oktober 2011 | 0 komentar

Prosesi dan ritual siraman di Sendang Bektiharjo.
Tuban – Ratusan seniman dan penari tayub se-Kabupaten Tuban mengikuti prosesi dan ritual siraman yang sudah dilakukan secara turun temurun di Sendang Desa Bektiharjo Kecamatan Semanding, Tuban, Rabu (12/10/11).

Ritual siraman yang menjadi agenda tahunan Dinas Perokonomian dan Pariwisata ini dibuka Wakil Bupati Tuban Ir Noor Nahar Husein diikuti 232 peserta yang terdiri dari 58 orang penabuh gamelan, 94 waranggono (perempuan penari tayub) serta 80 orang pria yang berkecimpung dalam dunia seni tradisioanal di Kabupaten Tuban.

Dalam sambutannya, Wabup Tuban menyampaikan, bahwa tradisi khas Tuban harus dipertahankan hingga tidak akan tergerus dengan budaya yang bisa merusak khas budaya tuban.

“Ini adalah seni budaya khas Tuban dan harus kita pertahankan. Kami atas nama pemerintah daerah akan berusaha melakukan pembinaan, sehingga keberadaan budaya Tuban akan tetap berjalan dan tidak akan hilang sepanjang sejarah,” ujarnya.

Hal yang sama dikatakan Kepala Dinas Perekonomian dan Pariwisata Tuban, Ir Budi Wiyana. Ia mengatakan, inti prosesi merupakan sebuah penyucian diri para seniman dan penari tayub.

“Agar selama menjalankan profesinya, mereka tidak banyak godaan, jadi ya harus diikuti karena prosesi siraman ini sudah menjadi adat,” kata Budi di lokasi acara.

Salah satu peserta prosesi siraman, Indra Rukmana kepada wartawan mengaku senang adanya kegiatan ini sekaligus sebagai bentuk kepedulian atas budaya di Kabupaten Tuban.

“Saya sangat senang karena untuk melesatarikan budaya seni Tayub.  Percaya tidak percaya, bahwa air di sendang ini adalah air yang sakral, yang bisa mensucikan diri kita hingga seperti bayi yang baru lahir. Kalau soal penglarisan, itu tergantung kepercayaan pribadi masing–masing,” ujarnya. (jbc11/jbc2/jurnalberita.com)

Tradisi Gulat Pathol Nelayan Pesisir Tuban, Kini Cuma Tontonan

Jumat, 09 September 2011 | 0 komentar

TUBAN - Gulat pathol, salah satu tradisi nelayan pesisir utara wilayah Kabupaten Tuban diprediksi tak lama lagi bakal tinggal cerita. Meski hampir tiap tahun diselenggarakan, seperti yang terjadi di wilayah pemukiman nelayan Kelurahan Karangsari Kecamatan Kota Tuban Selasa (6/9/2011) sore lalu, namun jumlah pesertanya semakin menipis. ‘’Sekarang kelihatannya hanya sekedar tontonan saja,’’ tutur Arif, salah seorang nelayan.

Terlihat tidak ada kebanggaan dari peserta. Padahal, dari berbagai keterangan yang diterima LIcom, gulat pathol tidak sekedar adu fisik. Namun, juga luapan kegembiraan nelayan sebagai wujud syukur  dan harapan karena menerima limpahan rejeki dari laut yang banyak. Tidak salah kalau dahulu-dahulunya jumlah pesertanya cukup banyak.

‘’Kalangan’’, atau yang sekarang disebut ‘’ring’’ dahulu dihiasi dengan janur, maupun obor apabila pertandingan berlangsung hingga malam hari. Petinggi-petinggi pemerintahan local juga seringkali hadir. Tidak salah kalau lokasi inipun menjadi ‘’pusat keramaian’’, karena juga dimeriahkan oleh para pedagang yang datang. Apalagi, gelar gulat ini merupakan salah satu rangkaian  tradisi nelayan, yang puncaknya diselenggarakan sedekah laut, ataupun larung sesaji.

Peserta gulat pathol merupakan ‘’jago’’, atau perwakilan dari  kelompok-kelompok nelayan dari desa-desa pesisir lainnya. Pemenang pertandingan mendapat ‘’tempat’’ dilingkungannya. Pegulat ini diyakini membawa keberuntungan bagi perkampungan nelayan  dimana tempat dia tinggal. ‘’Ini merupakan salah satu indikasi mulai melunturnya kerukunan antar warga nelayan,’’ aku salah seorang nelayan asal Kingking.

Untuk melestarikan seni tradisi ini pihak Pemkab Tuban pernah memasukkan dalam salah satu agenda pariwisata namun umurnya hanya seumur jagung. Seperti yang dikatakan Imaduddin dan Harimurti, dua orang penggiat seni tradisi ini tujuh tahun lalu.

Gulat pathol, menurut mereka, merupakan wujud dari kebanggan sekaligus kebersamaan kalangan nelayan, baik yang tua maupun muda. ‘’Dengan masuk diagenda wisata loka kita berharap agar menjadi pemicu proses pelestarian. Tapi untuk perkembangannya kembali kepada pemilik tradisi ini,’’ tutur Imaduddin.

Sementara ini, Dimyadi, salah seorang panitia gulat pathol  justru mengatakan hal yang berbeda. Menurut dia, pelestarian tradisi ini tidak bisa diserahkan kepada kaum nelayan tapi harus mendapat dukungan dari pihak ketiga. (lensaindonesia.com)

Ritual Tahunan, Kwan Sing Bio Bagikan 1.500 Tumpeng

Minggu, 21 Agustus 2011 | 0 komentar

Suasana saat warga berebut tumpeng.
TUBAN  – Ratusan warga histeris berebut tumpeng bunceng dalam ritual tahunan Sembahyang Arwah yang digelar di Klenteng Kwan Sing Bio Tuban, di kawasan Jalan RE Martadinata Tuban, Minggu (21/8/11).

Meski tak sampai menimbulkan korban, namun dalam acara rebutan 1.500 tumpeng yang berisi nasi, roti, serta mie instan serta kecap sempat terjadi suasana tak tertib dan kegaduhan. Warga histeris saat berebut tumpeng diiringi teriakan dan tangis anak-anak kecil yang ikut pula berebut tumpeng.

Sembahyang arwah merupakan ritual berdoa untuk mendoakan arwah keluarga yang sudah meninggal. Warga sudah mulai berkumpul sejak jam 09.00 pagi tadi, meski acara rebutan tumpeng baru dilakukan setelah kegiatan Sembahyang Arwah atau sekitar jam 11.20 WIB siang.

Meski cuaca sangat panas, mereka rela mengantri dan berdesak-desakan dengan warga lain demi mendapatkan tumpeng yang disediakan panitia. Mereka rela menunggu hingga tumpeng boleh di ambil usai ritual dilakukan. Tak hanya orang dewasa, baik pria maupun wanita, Nampak pula anak-anak ikut berdesakan dan berebut.

Begitu suara bedug sebagai tanda ditabuh,  spontan warga berdesakan dan saling berebut tumpeng. Hal itu membuat panitia kuwalahan hingga terjadi kegaduhan. Terdengar pula jeritan dan tangisan anak-anak yang masih dibawah umur dan balita lantaran terjepit ratusan orang yang merebut isi tumpeng.

Suasana kisruh akhirnya bisa dikendalikan setelah jajaran Satuan Dalmas Polres Tuban secara cepat melakukan pengamanan agar tidak sampai menimbulkan korban. “Kalau ikut merebut isi tumpeng, biasanya bisa mendapatkan berkah. Makanya, meskipun panas seperti ini, saya ikut acara rebutan tumpeng di klenteng ini,” kata Kastini (31), warga Desa Semanding ini.

Pengurus Klenteng Kwan Sing Bio, Gunawan kepada wartawan mengatakan, sebenarnya acara rebutan tumpeng merupakan bagian dari ritual Sembahyang Arwah atau Sembahyang dan menjadi kegiatan rutin setiap tahun.

“Kegiatan bertujuan untuk mendoakan para leluhur yang telah wafat, dan tahun ini kita menyiapkan 1500 tumpeng bunceng,” kata Gunawan. (jurnalberita.com)

Gerhana Bulan dalam Pandangan Masyarakat Tuban

Kamis, 16 Juni 2011 | 0 komentar

TUBAN - Gerhana bulan total selama 100 menit terlihat di wilayah Kabupaten Tuban, mulai pukul 02.25 WIB hingga 03.14 WIB, Kamis (16/6/2011) dini hari. Fenomena alam ini diyakini warga bakal membawa berkah, jika mereka bisa menatap bulan secara langsung.

Akibat keyakinan itu pula, banyak warga Tuban ke luar rumah. Mereka beramai-ramai membunyikan kentongan, untuk membangunkan tetangganya yang masih tertidur.

Pantauan di lapangan menyebut, datangnya purnama utuh telah banyak diketahui warga setempat. Untuk itu mereka ramai-ramai ke luar rumah sekedar melihat dan menatap langsung bulan yang sedang dimangsa gerhana tersebut.

Warga mulai dari anak-anak dan orang dewasa di wilayah Kota Tuban maupun desa-desa di sekitarnya ke luar rumah. Mereka nongkrong di jalanan sambil bergerombol. Menikmati indahnya bulan purnama. Apalagi purnama kali ini adalah purnama terlama waktunya karena sampai hampir 1,5 jam.

"Kata kakek nenek kita dulu, kalau ada gerhana bulan total dan kita bisa melihatnya. Akan terhindar dari musibah dan bencana," kata Safuwan (32) warga Desa Kembangbilo, dinihari tadi.

Sedangkan Untung Supangkat (41) asal Desa Bektiharjo menyatakan, jika bisa melihat gerhana bulan total secara langsung akan terhindar dari berbagai penyakit. Bahkan apa pun yang ditanam di ladang bisa subur dan terhindar dari hama penyakit.

"Makanya semalam saya melihat langsung dan mengelilingi sawah, agar tanaman kacang yang saya tanam tidak terkena hama penyakit," kata petani bertubuh kerempeng ini.

Sementara sejumlah warga juga meyakini jika gerhana bulan total dinihari tadi bisa dianggap sebagai kejadian yang sengaja diciptakan Tuhan untuk membasuh bumi dari ancaman pagebluk. Untuk itu pula, tak sedikit warga langsung mengelus-elus hewan ternaknya di bawah sinar bulan purnama.

"Semoga gerhana bulan kali ini membawa berkah pada sapi dan kambing saya,semoga bisa cepat besar dan tidak kena serangan wabah penyakit," kata Gopar (29) di samping Sumali (36) saat ditemui di Desa Jadi, Kecamatan Semanding, Tuban. (fat/fat/detik.com)

WONG JOWO ILANG JAWANE

Kamis, 20 Januari 2011 | 0 komentar

OPO bener wong Jawa iku ono sing ilang Jawane? Ilang Jawane tegese ilang sifat-sifat lan kepribadian kejawanane. Yen wis ilang Jawane koyo-koyo yo wis dudu wong Jawa maneh. Banjur wong Jawa iku dadi wong sing koyo opo? Wong Jawa diarani Jawa amarga nduweni sifat lan ciri-ciri tertentu. Umpamane: wong Jawa iku basa ibune basa Jawa, kesenian, tradisi lan kabudayane Jawa. Lha nek wis ora bisa boso Jawa, ora ngerti tradisi lan kesenian Jawa, ora tepung karo kabudayan Jawa, “gaya hidup”-e wis ora koyo saklumrahe wong Jawa, opo yo isih iso diarani wong Jawa?

Rehne anak-putune wong Jawa, mesthine ya tetep wong Jawa. Sifat-sifat kang tumurun marang anak-putu bisa dibedakake dadi rong werno, yaiku warisan biologis lan warisan sosial utowo kabudayan. Satemene sing bisa diwariske langsung iku ya mung warisan biologis. Rehne turune wong Jawa ya nduweni sifat fisik lan biologis kadideme wong Jawa, umpamane: kulite sawo mateng, rambute ireng lurus, irunge rodok pesek, lan liya-liyane. Dene warisan sosial iku warisan sing iso diwarisi sarono sinau utowo liwat sosialisasi. Tanpo sinau utowo srawung karo padha-padha wong Jawa, ya ora iso boso Jawa, ora tepung karo kesenian Jawa.
Warisan biologis iku wis kunandhut ono gen utawa bibite. Rehne bibite wong Jawa, ya marisi sifat fisik lan potensi-potensi mental Jawa. Wong Jawa sing digulamenthah lan digedhekake ing kulawarga manca mung oleh warisan biologis, ora oleh warisan sosial.

Lha gambarane wong Jawa sing wis ilang Jawane iku ya sing kaya ngono mau. Nanging keh-kehane wong Jawa sing urip ing satengahe bangsa lan kabudayaan liya, ya isih padha ngleluri kabudayane leluhure, upamane wong Jawa kang dedunung ono Suriname, wong Jawa sing daerah-daerah transmigrasi ning luwar Jawa.
Boso lan kabudayaan Jawa iku tansah ngremboko lan owah-gingsir nuting jaman kelakone. Kabudayaan Jawa iku perlu diuri-uri supaya lestari lan isih tetep dadi warisan kanggo anak-putu, mung bae kabudayaan mau besuke mesthi wis bedo karo kabudayaan Jawa saiki, nanging ora ateges menawa wong Jawa banjur ilang Jawane. Ya mung “Jawane” wong Jawa besuk mbok menowo wis beda karo “jawane” wong Jawa saiki.

Pancen ono wae wong Jawa sing ora njawani, sauger wong Jawa iku isih ana, kajawaane mbokmenowo uga tetep isih ana, Dadi, tetembungan “wong Jowo ilang Jawane” ora bisa disurasa kanthi wantah wae. Sing genah kawibawane wong Jawa iku owah-gingsir nuting jaman kelakone. Pamiara lan panguri-uri iku perlu, nurih kajawaan mau ora adoh mlencenge. (Dening Soedjarwo)

SEJARAH Lahirnya TAHLILAN

Rabu, 19 Januari 2011 | 0 komentar

Oleh: Suhadi


PERINTIS, pelopor dan pembuka pertama penyiaran serta pengembangan Islam di Pulau Jawa adalah para ulama/mubaligh yang berjumlah sembilan, yang populer dengan sebuatan Wali Songo. Atas perjuangan mereka, berhasil mendirikan sebuah kerajaan Islam pertama di Pulau Jawa yang berpusat di Demak, Jawa Tengah.

Para ulama yang sembilan dalam menyiarkan dan mengembangkan Islam di tanah Jawa yang mayoritas penduduknya beragama Hindu dan Budha mendapat kesulitan dalam membuang adat istiadat upacara keagamaan lama bagi mereka yang telah masuk Islam.

Para ulama yang sembilan (Wali Songo) dalam menangguangi masalah adat istiadat lama bagi mereka yang telah masuk Islam terbagi menjadi dua aliran yaitu ALIRAN GIRI dan ALIRAN TUBAN. ALIRAN GIRI adalah suatu aliran yang dipimpin oleh Raden Paku (Sunan Giri) dengan para pendukung Raden Rahmat (Sunan Ampel), Syarifuddin (Sunan Drajat) dan lain-lain.

Aliran ini dalam masalah ibadah sama sekali tidak mengenal kompromi dengan ajaran Budha, Hindu, keyakinan animisme dan dinamisme. Orang yang dengan suka rela masuk Islam lewat aliran ini, harus mau membuang jauh-jauh segala adat istiadat lama yang bertentangan dengan syari'at Islam tanpa reserve. Karena murninya aliran dalam menyiarkan dan mengembangkan Islam, maka aliran ini disebut ISLAM PUTIH.
Adapun ALIRAN TUBAN adalah suatu aliran yang dipimpin oleh R.M. Syahid (Sunan Kalijaga) yang didukung oleh Sunan Bonang, Sunan Muria, Sunan Kudus, dan Sunan Gunung Djati.

Aliran ini sangat moderat, mereka membiarkan dahulu terhadap pengikutnya yang mengerjakan adat istiadat upacara keagamaan lama yang sudah mendarah daging sulit dibuang, yang penting mereka mau memeluk Islam. Agar mereka jangan terlalu jauh menyimpang dari syari'at Islam. Maka para wali aliran Tuban berusaha agar adat istiadat Budha, Hindu, animisme dan dinamisme diwarnai keislaman. Karena moderatnya aliran ini maka pengikutnya jauh lebih banyak dibandingkan dengan pengikut aliran Giri yang "radikal". aliran ini sangat disorot oleh aliran Giri karena dituduh mencampur adukan syari'at Islam dengan agama lain. Maka aliran ini dicap sebagai aliran Islam abangan.

Dengan ajarah agama Hindu yang terdapat dalam Kitab Brahmana. Sebuah kitab yang isinya mengatur tata cara pelaksanaan kurban, sajian-sajian untuk menyembah dewa-dewa dan upacara menghormati roh-roh untuk menghormati orang yang telah mati (nenek moyang) ada aturan yang disebut Yajna Besar dan Yajna Kecil.

Yajna Besar dibagi menjadi dua bagian yaitu Hafiryayajna dan Somayjna. Somayjna adalah upacara khusus untuk orang-orang tertentu. Adapun Hafiryayajna untuk semua orang. Somayajna adalah upacara khusus untuk orang-orang tertentu. Adapun Hafiryayajna untuk semua orang.
Hafiryayajna terbagi menjadi empat bagian yaitu : Aghnidheya, Pinda Pitre Yajna, Catur masya, dan Aghrain. Dari empat macam tersebut ada satu yang sangat berat dibuang sampai sekarang bagi orang yang sudah masuk Islam adalah upacara Pinda Pitre Yajna yaitu suatu upacara menghormati roh-roh orang yang sudah mati.

Dalam upacara Pinda Pitre Yajna, ada suatu keyakinan bahwa manusia setelah mati, sebelum memasuki karman, yakni menjelma lahir kembali kedunia ada yang menjadi dewa, manusia, binatang dan bahkan menjelma menjadi batu, tumbuh-tumbuhan dan lain-lain sesuai dengan amal perbuatannya selama hidup, dari 1-7 hari roh tersebut masih berada dilingkungan rumah keluarganya. Pada hari ke 40, 100, 1000 dari kematiannya, roh tersebut datang lagi ke rumah keluarganya. Maka dari itu, pada hari-hari tersebut harus diadakan upacara saji-sajian dan bacaan mantera-mantera serta nyanyian suci untuk memohon kepada dewa-dewa agar rohnya si fulan menjalani karma menjadi manusia yang baik, jangan menjadi yang lainnya.

Pelaksanaan upacara tersebut diawali dengan aghnideya, yaitu menyalakan api suci (membakar kemenyan) untuk kontak dengan para dewa dan roh si fulan yang dituju. Selanjutnya diteruskan dengan menghidangkan saji-sajian berupa makanan, minuman dan lain-lain untuk dipersembahkan ke para dewa, kemudian dilanjutkan dengan bacaan mantra-mantra dan nyanyian-nyanyian suci oleh para pendeta agar permohonannya dikabulkan.*1
Musyawarah Para Wali*2
Pada masa para wali dibawah pimpinan Sunan Ampel, pernah diadakan musyawarah antara para wali untuk memecahkan adat istiadat lama bagi orang yang telah masuk Islam. Dalam musyawarah tersebut Sunan Kali Jaga selaku Ketua aliran Tuban mengusulkan kepada majlis musyawarah agar adat istiadat lama yang sulit dibuang, termasuk didalamnya upacara Pinda Pitre Yajna dimasuki unsur keislaman.

Usulan tersebut menjadi masalah yang serius pada waktu itu sebab para ulama (wali) tahu benar bahwa upacara kematian adat lama dan lain-lainnya sangat menyimpang dengan ajaran Islam yang sebenarnya.
Mendengar usulan Sunan Kali Jaga yang penuh diplomatis itu, Sunan Ampel selaku penghulu para wali pada waktu itu dan sekaligus menjadi ketua sidang/musyawarah mengajukan pertanyaan sebagai berikut :

"Apakah tidak dikhawatirkan dikemudian hari?, bahwa adat istiadat lama itu nanti akan dianggap sebagai ajaran Islam, sehingga kalau demikian nanti apakah hal ini tidak akan menjadikan bid'ah"?.
Pertanyaan Sunan Ampel tersebut kemudian dijawab oleh Sunan Kudus sebagai berikut :
"Saya sangat setuju dengan pendapat Sunan Kali Jaga"

Sekalipun Sunan Ampel, Sunan Giri, dan Sunan Drajat sangat tidak menyetujui, akan tetapi mayoritas anggota musyawarah menyetujui usulan Sunan Kali Jaga, maka hal tersebut berjalan sesuai dengan keinginannya. Mulai saat itulah secara resmi berdasarkan hasil musyawarah, upacara dalam agama Hindu yang bernama Pinda Pitre Yajna dilestarikan oleh orang-orang Islam aliran Tuban yang kemudian dikenal dengan nama nelung dino, mitung dina, matang puluh, nyatus, dan nyewu.

Dari akibat lunaknya aliran Tuban, maka bukan saja upacara seperti itu yang berkembang subur, akan tetapi keyakinan animisme dan dinamisme serta upacara-upacara adat lain ikut berkembang subur. Maka dari itu tidaklah heran muridnya Sunan Kali Jaga sendiri yang bernama Syekh Siti Jenar merasa mendapat peluang yang sangat leluasa untuk mensinkritismekan ajaran Hindu dalam Islam. Dari hasil olahannya, maka lahir suatu ajaran klenik/aliran kepercayaan yang berbau Islam. Dan tumbuhlah apa yang disebut "Manunggaling Kaula Gusti" yang artinya Tuhan menyatu dengan tubuhku. Maka tatacara untuk mendekatkan diri kepada Allah lewat shalat, puasa, zakat, haji dan lain sebagainya tidak usah dilakukan.

Sekalipun Syekh Siti Jenar berhasil dibunuh, akan tetapi murid-muridnya yang cukup banyak sudah menyebar dimana-mana. Dari itu maka kepercayaan seperti itu hidup subur sampai sekarang.
Keadaan umat Islam setelah para wali meninggal dunia semakin jauh dari ajaran Islam yang sebenarnya. para Ulama aliran Giri yang terus mempengaruhi para raja Islam pada khususnya dan masyarakat pada umumnya untuk menegakkan syari'at Islam yang murni mendapat kecaman dan ancaman dari para raja Islam pada waktu itu, karena raja-raja Islam mayoritas menganut aliran Tuban. Sehingga pusat pemerintahan kerajaan di Demak berusaha dipindahkan ke Pajang agar terlepas dari pengaruh para ulama aliran Giri.

Pada masa kerajaan Islam di Jawa, dibawah pimpinan raja Amangkurat I, para ulama yang berusaha mempengaruhi keraton dan masyarakat, mereka ditangkapi dan dibunuh/dibrondong di lapangan Surakarta sebanyak 7.000 orang ulama. Melihat tindakan yang sewenang-wenang terhadap ulama aliran Giri itu, maka Trunojoyo, Santri Giri berusaha menyusun kekuatan untuk menyerang Amangkurat I yang keparat itu.

Pada masa kerajaan dipegang oleh Amangkurat II sebagai pengganti ayahnya, ia membela, dendam terhadap Truno Joyo yang menyerang pemerintahan ayahnya. Ia bekerja sama dengan VOC menyerang Giri Kedaton dan semua upala serta santri aliran Giri dibunuh habis-habisan, bahkan semua keturunan Sunan Giri dihabisi pula. Dengan demikian lenyaplah sudah ulama-ulama penegak Islam yang konsekwen. Ulama-ulama yang boleh hidup dimasa itu adalah ulama-ulama yang lunak (moderat) yang mau menyesuaikan diri dengan keadaan masyarakat yang ada. maka bertambah suburlah adat-istiadat lama yang melekat pada orang-orang Islam, terutama upacara adat Pinde Pitre Yajna dalam upacara kematian.

Keadaan yang demikian terus berjalan berabad-abad tanpa ada seorang ulamapun yang muncul untuk mengikis habis adat-istiadat lama yang melekat pada Islam terutama Pinda Pitre Yajna. Baru pada tahun 1912 M, muncul seorang ulama di Yogyakarta bernama K.H. Ahmad Dahlan yang berusaha sekuat kemampuannya untuk mengembalikan Islam dari sumbernya yaitu Al Qur'an dan As Sunnah, karena beliau telah memandang bahwa Islam dalam masyrakat Indonesia telah banyak dicampuri berbagai ajaran yang tidak berasal dari Al Qur'an dan Al Hadits, dimana-mana merajalela perbuatan khurafat dan bid'ah sehingga umat Islam hidup dalam keadaan konservatif dan tradisional.

Munculnya K.H. Ahmad Dahlan bukan saja berusaha mengikis habis segala adat istiadat Budha, Hindu, animisme, dinamisme yang melekat pada Islam, akan tetapi juga menyebarkan fikiran-fikiran pembaharuan dalam Islam, agar umat Islam menjadi umat yang maju seperti umat-umat lain. Akan tetapi aneh bin ajaib, kemunculan beliau tersebut disambut negatif oleh sebagian ulama itu sendiri, yang ternyata ulama-ulama tersebut adalah ulama-ulama yang tidak setuju untuk membuang beberapa adat istiadat Budha dan Hindu yang telah diwarnai keislaman yang telah dilestarikan oleh ulama-ulama aliran Tuban dahulu, yang antara lain upacara Pinda Pitre Yajna yang diisi nafas Islam, yang terkenal dengan nama upacara nelung dina, mitung dina, matang dina, nyatus, dan nyewu.

Pada tahun 1926 para ulama Indonesia bangkit dengan didirikannya organisasi yang diberi nama "Nahdhatul Ulama" yang disingkat NU. Pada muktamarnya di Makasar NU mengeluarkan suatu keputusan yang antara lain :
"Setiap acara yang bersifat keagamaan harus diawali dengan bacaan tahlil yang sistimatikanya seperti yang kita kenal sekarang di masyarakat".
Keputusan ini nampaknya benar-benar dilaksanakan oleh orang NU. Sehingga semua acara yang bersifat keagamaan diawali dengan bacaan tahlil, termasuk acara kematian. Mulai saat itulah secara lambat laun upacara Pinda Pitre Yajna yang diwarnai keislaman berubah nama menjadi tahlilan sampai sekarang.

Sesuai dengan sejarah lahirnya tahlilan dalam upacara kematian, maka istilah tahlilan dalam upacara kematian hanya dikenal di Jawa saja. Di pulau-pulau lain seluruh Indonesia tidak ada acara ini. Seandainya ada pun hanya sebagai rembesan dari pulau Jawa saja. Apalagi di negara-negara lain seperti Arab, Mesir, dan negara-negara lainnnya diseluruh dunia sama sekali tidak mengenal upacara tahlilan dalam kematian ini.

Dengan sudah mengetahui sejarah lahirnya tahlilan dalam upacara kematian yang terurai diatas, maka kita tidak akan lagi mengatakan bahwa upacara kematian adalah ajaran Islam, bahkan kita akan bisa mengatakan bahwa orang yang tidak mau membuang upacara tersebut berarti melestarikan salah satu ajaran agama Hindu. Orang-orang Hindu sama sekali tidak mau melestarikan ajaran Islam, bahkan tidak mau kepercikan ajaran Islam sedikitpun. Tetapi kenapa kita orang Islam justru melestarikan keyakinan dan ajaran mereka.

Tak cukupkah bagi kita Sunnah Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam yg sudah jelas terang benderang saja yang kita kerjakan. Kenapa harus ditambah-tambahin/mengada-ada. Mereka beranggapan ajaran Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam masih kurang sempurna.
Mudah-mudahan setelah kita tahu sejarah lahirnya tahlilan dalam upacara kematian, kita mau membuka hati untuk menerima kebenaran yang hakiki dan kita mudah-mudahan akan menjadi orang Islam yang konsekwen terhadap ajaran Allah dan Rasul-Nya.

Ada satu hal yang perlu kita jaga baik-baik, jangan sekali-kali kita berani mengatakan bahwa orang yang matinya tidak ditahlil adalah kerbau. Menurut penulis, perkataan seperti ini termasuk dosa besar, karena berarti Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam dan para sahabatnya serta kaum muslimin seluruh dunia selain orang pulau Jawa yang matinya tidak ditahlili adalah kerbau semua.
Na'udzu billahi mindzalik

Daftar Literatur
1. K.H. Saifuddin Zuhn, Sejarah Kebangkitan Islam dan Perkembangannya di Indonesia, Al Ma'arif Bandung 1979
2. Umar Hasyim, Sunan Giri, Menara Kudus 1979
3. Solihin Salam, Sekitar Wali Sanga, Menara Kudus 1974
4. Drs. Abu Ahmadi, Perbandingan Agama, Ab.Siti Syamsiyah Solo 1977
5. Soekmono, Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia, Tri Karya, Jakarta 1961
6. Hasil wawancara dengan tokoh Agama Hindu.
7. A. Hasan, Soal Jawab, Diponegoro Bandung 1975

GOA AKBAR, Tempat SUNAN KALIJAGA Bertapa

Selasa, 18 Januari 2011 | 0 komentar


BERWISATA ke kabupaten Tuban tak lengkap rasanya tanpa menyambangi Goa Akbar. Goa alam yang berlokasi di tempat terpencil, Goa Akbar yang merupakan salah satu objek wisata andalan Kabupaten Tuban berada tepat di bawah pasar rakyat.

Ramainya aktivitas jual beli di pasar sungguh sangat kontras dengan suasana hening diselingi gemercik air saat berada di dalam goa ini. Di dalam goa ini juga dibangun sebuah kolam air tawar dengan menempatkan ikan mas di dalamnya, otomatis hal ini memberikan nilai tambah tersendiri bagi pengunjung saat mengunjungi objek wisata ini.

Nama Akbar konon berasal dari nama sebuah pohon yang tumbuh di depan goa, yakni pohon Abar. Namun sumber lain menyebutkan nama Akbar tersebut diberikan oleh pemerintah Kabupaten Tuban yang merupakan akronim dari Aman, Kreatif, Bersih, Asri dan Rapi yang tak lain dan tak bukan adalah merupakan slogan dari Kabupaten Tuban itu sendiri.

Goa Akbar itu sendiri memiliki nilai religius. Diceritakan Sunan Bonang melihat goa ini saat diajak Sunan Kalijogo yang saat itu masih bernama Raden Mas Sahid. Beberapa tempat di Goa Akbar dipercaya sebagai tempat Sunan Kalijogo dan Sunan Bonang pernah bertapa. Seperti ceruk yang diberi nama Pasepen Koro Sinandhi, yaitu tempat pintu yang dirahasiakan. Ceruk ini sangat kecil pintunya.

Untuk masuk ke dalamnya, orang dewasa harus merangkak atau sekurangnya membungkuk. Oleh masyarakat sekitar dipercaya prosesi membungkuk ini memiliki makna filosofis yang tinggi, yakni pengunjung diingatkan di depan mata Allah semua harus merendahkan diri.

Pada sisi lain dari dalam gua terdapat sebuah ruangan yang bisa digunakan oleh pengunjung untuk melakukan ibadah salat. Bagian ini memiliki lantai dasar goa yang telah dilapis keramik warna putih dan hitam sebagai penanda barisan salat. Beberapa pengunjung tampak meluangkan waktu untuk salat sejenak di tempat ini.

Sebuah ruangan yang cukup luas terdapat pula didalam gua ini diberi nama Paseban Wali yang dipercaya dulunya digunakan oleh para walisongo untuk berkumpul dan menyampaikan ajaran agama Islam. Suatu hal yang harus ditelaah lebih lanjut, mengingat Wali Songo hidup tidak persis pada zaman yang sama.Namun demikian, Paseban Para Wali itu memang mirip ruang pertemuan. Adanya lubang-lubang di langit-langit goa hingga cahaya matahari masuk dalam bentuk jalur cahaya yang jelas. Stalaktit dan stalagmit juga seakan menjadi hiasan ruangan. Itu ditambah dengan adanya batu-batu besar yang terletak di bagian depan ruang, seakan menjadi podium bagi pembicara.

Sejak direnovasi pada tahun 1996, Goa Akbar semakin menarik untuk dikunjungi. Jalur jalan didalam gua terbuat dari paving block dengan pembatas pagar besi (sebagian di antaranya telah di krom) pada bagian sisinya tampak memberi kesan bersh dan rapi.

Pagar pembatas tersebut sengaja dipasang agar pengunjung tidak sampai mengeksplorasi tanpa arah saat berada didalam gua. Cukup ikuti jalur yang telah dibuat tersebut otomatis seluruh bagian gua bisa dinikmati. Di berbagai tempat dipasang lampu-lampu warna-warni yang walau kurang bisa menunjukkan tekstur goa, namun cukup membuat suasana nyaman. (uky/okz.com)

Kalender 2011 (Hijriah, Masehi, Jawa) apakabartuban

Selasa, 21 Desember 2010 | 2 komentar

Air Sumur Makam SUNAN BONANG Bikin AWET MUDA ?

Selasa, 07 Desember 2010 | 0 komentar

Para peziarah yang tengah minum air sumur yang dipercaya memiliki keistimewaan dan khasiat tertentu (bekti)

TUBAN – Selain bertujuan melakukan ziarah serta melakukan wisata ritual dan religi di Makam Sunan Bonang, tak sedikit diantara para peziarah memiliki tujuan khusus, diantaranya mengambil atau meminum air sumur yang berada di areal komplek makam Sunan Bonang.

Konon, para peziarah yang datang dengan tujuan khusus ini, mempercayai bila air yang berasal dari sumur makam Sunan Bonang, yang dikenal dengan nama sumur Qur’an, memiliki khasiat khusus serta mampu mendatangkan ‘keajaiban’ tertentu, hingga tak sedikit diantara mereka yang datang ke makam Sunan Bonang hanya untuk meminum air yang berasal dari sumur Qur’an tersebut.

Selain itu, Mereka yang datang tidak dengan rombongan, umumnya mempunyai niat khusus, seperti ingin segera menyelesaikan permasalahan rumah tangga, agar dagangan mereka laris atau ingin segera mendapat jodoh.

M. Lazim, juru kunci makam mengatakan, pihaknya sebenarnya telah menghimbau agar para peziarah tidak mempunya niat lain, kecuali mendoakan arwah Sunan Bonang atau Syekh Makdum Ibrahim, agar tidak terjerumus kemusyrikan. “Tapi kami tentu saja tidak bisa mencegah peziarah seperti itu, karena niat mereka kan tidak ada yang tahu,” ujarnya.

Hal yang sama dikatakan M. Ilham, pengurus Yayasan Mabarot Sunan Bonang (YMSB), lembaga pengelola makam. Ia mengatakan, masyarakat atau peziarah yang datang menganggap bila melakukan ritual di makam Sunan Bonang, belum lengkap jika belum meminum air sumur Qur’an.

Konon, sumur itu digali sendiri oleh Sunan Bonang. “Kalau ingin cepat hafal Al-Qur’an, sering-sering minum air Sumur Qur’an ini. Untuk pelajar atau mahasiswa juga baik karena bisa mencerdaskan otak,” terang Ilham, seolah menerangkan secara detil anggapan peziarah.

Khasiat lainnya, lanjut Ilham, air Sumur Qur’an yang ada di komplek makam Sunan Bonang, juga dipercayai masyarakat dan peziarah dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit, bahkan bisa membuang sial dan membuat wajah tampak awet muda, karena cahaya karomah Sunan Bonang. Wallahu‘alam. (jb8/jb2)

SURO ! Makam SUNAN BONANG Dibanjiri PEZIARAH

| 0 komentar

TUBAN – Tahun Baru Islam tanggal 1 Muharam atau dalam penanggalan jawa disebut juga dengan 1 Suro, masih diyakini membawa karomah (keramat) oleh sebagian masyarakat. Berbagai aktivitas ritual dilakukan, salah satu diantaranya melakukan ziarah ke Makam Sunan Bonang.

Tak hanya ratusan orang yang melakukan ziarah dan wisata ritual, bahkan hingga ribuan peziarah yang datang membanjiri makam salah satu dari Sembilan Wali penyebar agama Islam di tanah Jawa ini. Peziarah yang datang pun tak hanya dari pulau Jawa, namun dari berbagai daerah di Indonesia.

Bahkan, diantara peziarah yang datang, baik dari pulau Jawa maupun dari luar jawa, seperti Kalimantan serta Nusa Tenggara Timur, ada sudah tiba di areal wisata ritual makam Sunan Bonang, sehari sebelum tanggal 1 Muharam guna melakukan ziarah serta wisata ritual.

Juru Kunci Makam Sunan Bonang, Muhammad Lazim mengatakan, para peziarah yang datang dan membajiri wisata ritual Makam Sunan Bonang, biasanya selalu datang secara berombongan, baik dari daerah sekitar pulau Jawa maupun dari Luar Pulau Jawa. “Malah ada yang sudah disini dua hari sebelum tanggal satu Muharam. Katanya, keramat Sunan Bonang sangat besar karena termasuk Wali tertua,” jelas M. Lazim.

Khoirul Huda (33), peziarah yang mengaku berasal dari Lamongan mengatakan, sayang jika berziarah ke makam Sunan Bonang hanya sebentar dan hanya membaca tahlil. Menurutnya, Sunan Bonang memiliki karomah yang luar biasa.

Huda yakin karomah yang dimiliki Sunan Bonang itu hingga sekarang masih terpancar dan akan terlimpahkan pada orang yang melakukan riyadloh (ritual) di makam tersebut. “Dibanding tempat-tempat keramat lainnya, Makam Sunan Bonang lebih besar karomahnya,” kata Huda.

Hal sama dikatakan Sapuan (25), peziarah asal Rembang, Jawa Tengah. Ia mengaku rutin setiap satu Suro datang ke makam Sunan Bonang. Menurutnya, karomah Sunan Bonang dapat memperkuat badan dan jiwanya sehingga mudah menghadapi berbagai masalah. “Makam Sunan Bonang sangat cocok untuk pemantapan ilmu, saya rutin ke mari,” ujarnya. (jb8/jb2)

Satu SURO Tahun Baru JAWA

Senin, 06 Desember 2010 | 0 komentar


JAMASAN PUSAKA

Di Indonesia, saat ini paling tidak mengenal empat macam tahun yang berbeda-beda, misalnya Tahun Masehi, Tahun Hijriah, Tahun Jawa, dan Tahun Imlek. Tahun Masehi didasarkan atas perputaran bumi mengitari matahari yang dikenal dengan tahun matahari, dan berkaitan dengan musim, sementara Tahun Hijriyah dan Tahun Jawa didasarkan pada perputaran bulan mengelilingi bumi dan tidak berkaitan dengan musim. Tahun yang berdasarkan perputaran matahari dan bulan memiliki perbedaan jumlah hari setiap tahunnya. Untuk tahun matahari, setiap tahunnya berjumlah 365/366 hari, sementara untuk tahun bulan, memiliki hari 354 per tahun.


Tahun Masehi mengawali tahun barunya setiap tanggal 1 Januari sementara Tahun Hijriyah mengawali tahun baru pada tanggal 1 Muharram dan Tahun Jawa pada tanggal 1 Suro. Tahun Jawa memiliki kesamaan dengan Tahun Hijriyah terutama mengawali tanggal dan bulannya. Perbedaannya terletak pada istilah penyebutan nama bulan. Tahun Hijriyah menyebut bulan Muharram atau Asyuro, sementara Tahun Jawa menyebut bulan Suro. Kesamaan keduanya ternyata dapat ditelusuri dari sejarah kerajaan Mataram Islam di bawah kekuasaan pemerintahan Sultan Agung (1613-1645 Masehi).


Ketika itu di masyarakat Jawa, tahun yang menjadi pegangan masyarakat pada zamannya adalah Tahun Saka yang berdasarkan peredaran matahari. Sementara bagi umat Islam sendiri menggunakan Tahun Hijriyah. Pada waktu Sultan Agung berkuasa, Islam telah diakui menjadi agama di lingkungan istana Mataram Islam. Maka untuk tetap meneruskan penanggalan Tahun Saka yang berasal dari leluhurnya, dan ingin mengikuti penanggalan Tahun Hijriyah, maka Sultan Agung membuat kebijakan mengubah Tahun Saka menjadi Tahun Jawa. Maka ketika tahun 1555 Saka, oleh Sultan Agung diganti menjadi tahun 1555 Jawa dan berlaku untuk masyarakat pengikutnya. Sementara penetapan tanggal dan bulannya disamakan dengan tanggal dan bulan Tahun Hijriyah. Berarti tanggal 1 Suro 1555 Tahun Jawa sama dengan tanggal 1 Muharram 1043 Hijriyah dan bertepatan pula dengan tanggal 8 Juli 1633 Masehi.


Nama-nama bulan pada Tahun Jawa pun dibuat lain dan berbeda dengan nama-nama Tahun Hijriyah. Tentu saja disesuikan dengan ucapan masyarakat Jawa. Seperti bulan Muharram (Tahun Hijriyah) = bulan Suro (Tahun Jawa), bulan Shafar = Sapar, bulan Rabi’ul Awal = Maulud, bulan Rabi’ul Tsani = Bakda Maulud, bulan Jumadil Ula = Jumadil Awal, bulan Jumadil Tsaniyah = Jumadil Akir, bulan Rajab = Rejeb, bulan Sya’ban = Ruwah, bulan Ramadhan = Pasa, bulan Syawwal = Sawal, bulan Dzulqa’dah = Dulkaidah, dan bulan Dzulhijjah = Besar.


Pada umumnya masyarakat menjelang tahun baru, misalnya Tahun Baru Masehi, banyak melakukan kegiatan untuk menyambutnya. Kegiatan tersebut biasanya tidak terlepas dari upaya introspeksi dan harapan-harapan. Introspeksi dilakukan tentunya berkaitan dengan perbuatan-perbuatan di tahun lalu, apakah perbuatannya itu telah bermanfaat bagi dirinya sendiri dan masyarakat atau justru merugikan orang lain. Jika masih banyak merugikan orang lain, tentunya akan diperbaiki pada tahun baru ini, itulah harapan-harapannya. Namun tidak sedikit pula masyarakat yang merayakan tahun baru hanya bertujuan ingin bersenang-senang. Memang akhirnya harus dikembalikan kepada masyarakat sendiri sebagai pencipta budaya untuk memahami sebuah arti tahun baru.


Begitu juga ketika menjelang Tahun Baru Jawa, tentunya masyarakat Jawa pun ingin mempunyai harapan-harapan yang lebih baik di tahun baru dan tentunya juga melakukan introspeksi terhadap tindakan di masa silam. Kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan bulan Suro, baik menjelang maupun selama bulan Suro jelas tidak terlepas dari introspeksi dan harapan-harapan itu. Namun dalam perkembangannya pun bisa saja mengalami pergeseran persepsi.



ELING LAN WASPADA

Bagi masyarakat Jawa, kegiatan-kegiatan menyambut bulan Suro sudah berlangsung sejak berabad-abad yang lalu. Kegiatan-kegiatan yang berulang-ulang tersebut akhirnya menjadi kebiasaan dan menjadi tradisi yang setiap tahun dilakukan. Itulah yang kemudian disebut budaya dan menjadi ciri khas bagi komunitasnya. Namun kalau dicermati, tradisi di bulan Suro yang dilakukan oleh masyarakat Jawa adalah sebagai upaya untuk menemukan jati dirinya agar selalu tetap eling lan waspada. Eling artinya harus tetap ingat siapa dirinya dan dari mana sangkan paraning dumadi ‘asal mulanya’, kedudukannya sebagai makhluk Tuhan, tugasnya sebagai khalifah manusia di bumi baik bagi diri sendiri maupun orang lain. Waspada, artinya harus tetap cermat, terjaga, dan waspada terhadap segala godaan yang sifatnya menyesatkan. Karena sebenarnya godaan itu bisa menjauhkan diri dari sang Pencipta, sehingga dapat menjauhkan diri mencapai manunggaling kawula gusti ‘bersatunya makhluk dan Khalik’.

Bulan Suro sebagai awal tahun Jawa, bagi masyarakatnya, juga disebut bulan yang sakral, karena dianggap bulan yang suci, bulan untuk melakukan perenungan, bertafakur, berintrospeksi, mendekatkan diri kepada Sang Khalik. Cara yang dilakukan biasanya disebut dengan laku, yaitu mengendalikan hawa nafsu dengan hati yang ikhlas untuk mencapai kebahagiaan dunia akhirat. Itulah esensi dari kegiatan budaya yang dilakukan masyarakat Jawa pada bulan Suro. Tentunya makna ini juga didapatkan ketika bulan Pasa (Ramadhan, Tahun Hijriyah), khususnya yang memeluk agama Islam.

Laku yang dilaksanakan oleh masyarakat Jawa sebagai media introspeksi biasanya banyak caranya. Ada yang melakukan laku dengan cara nenepi ‘meditasi untuk merenung diri’ di tempat-tempat sakral (di puncak gunung, tepi laut, makam, gua, pohon tua, dan sebagainya), dan ada juga yang melakukan dengan cara lek-lekan ‘berjaga hingga pagi hari’ di tempat-tempat umum (tugu Yogya, Pantai Parangkusumo, dan sebagainya). Sebagian masyarakat Jawa lainnya juga melakukan cara sendiri yaitu mengelilingi beteng kraton sambil membisu.

Begitu pula untuk menghormati bulan yang sakral ini, sebagian masyarakat Jawa melakukan tradisi syukuran kepada Tuhan pemberi rejeki, yaitu dengan cara melakukan labuhan dan sedekahan di pantai, labuhan di puncak gunung, merti dusun atau suran, atau lainnya. Karena bulan Suro juga dianggap sebagai bulan yang baik untuk mensucikan diri, maka sebagian masyarakat lain melakukan kegiatan pembersihan barang-barang berharga, seperti jamasan keris pusaka, jamasan kereta, pengurasan enceh di makam Imogiri, dan sebagainya. Ada juga yang melakukan kegiatan sebagai rasa syukur atas keberhasilan di masa lalu dengan cara pentas wayang kulit, ketoprak, nini thowong, dan kesenian tradisional lainnya. Apapun yang dilakukan boleh saja terjadi asal esensinya adalah perenungan diri sendiri (introspeksi) sebagai hamba Tuhan.

Namun, akibat perkembangan zaman, semakin heterogennya masyarakat satu komunitas dan juga karena dampak dari berbagai kepentingan yang sangat kompleks, lambat laun, banyak masyarakat terutama yang awam terhadap budaya tradisional tidak lagi mengetahui dengan jelas di balik makna asal tradisi budaya bulan Suro. Mereka umumnya hanya ikut-ikutan, seperti beramai-ramai menuju pantai, mendaki gunung, bercanda ria sambil mengelilingi beteng, berbuat kurang sopan di tempat-tempat keramat dan sebagainya. Maka tidak heran jika mereka menganggap bahwa bulan Suro tidak ada bedanya dengan bulan-bulan lainnya.

Di sisi lain, ternyata kesakralan bulan Suro membuat masyarakat Jawa sendiri enggan untuk melakukan kegiatan yang bersifat sakral, misalnya hajatan pernikahan. Hajatan pernikahan di bulan Suro sangat mereka hindari. Entah kepercayaan ini muncul sejak kapan, kita tidak tahu. Namun yang jelas, sampai sekarang pun mayoritas masyarakat Jawa tidak berani menikahkan anak di bulan Suro. Ada sebagian masyarakat Jawa yang percaya dengan cerita Nyi Roro Kidul, penguasa laut selatan (Samodra Hindia). 

Konon, ceritanya, setiap bulan Suro, Nyi Roro Kidul selalu punya hajatan atau mungkin menikahkan anaknya (tidak diketahui jumlah anaknya berapa). Setiap masyarakat Jawa yang punya gawe di bulan Suro ini, diyakini penganten atau keluarganya tidak akan mengalami kebahagiaan atau selalu mengalami kesengsaraan, baik tragedi cerai, gantung diri, meninggal, mengalami kecelakaan, atau lainnya. Entah kebenaran itu ada atau tidak, yang jelas masyarakat Jawa secara turun-temurun menghindari bulan Suro untuk menikahkan anak. Kita bisa membuktikan kejadian ini kepada penjual jasa, seperti penyewa alat-alat resepsi atau sejenisnya, mereka pasti akan mengatakan sepi order. Adapun disewa, pasti untuk kegiatan lain, seperti sunatan, kelahiran, atau kematian. Padahal bagi pemeluk agama Islam dan mungkin juga pemeluk agama lain, bahwa semua hari dan bulan itu baik untuk melakukan kegiatan apapun termasuk pernikahan.

Aneh memang, itulah kepercayaan! Akankah masyarakat Jawa di masa mendatang akan lain lagi memaknai bulan Suro? Jawabannya ada pada anak cucu kita sebagai generasi penerus. 

SELAMAT TAHUN BARU 1 MUHARRAM 1432 H

Sisi Lain Malam 1 SURO di Kabupaten TUBAN

Minggu, 05 Desember 2010 | 0 komentar

SEBAGIAN besar masyarakat Jawa meyakini bahwa bulan Suro  merupakan bulan paling keramat sepanjang tahun. Karena itu, Suro diyakini menjadi waktu yang tepat untuk lelaku atau melakukan ritual mengasah ilmu supranatural.

.

Sejumlah lokasi keramat di Kabupaten Tuban, yang menjadi langganan warga untuk melakukan ritual tahunan mulai tampak kesibukanya menjelang datangnya 1 Suro. Salah satunya adalah Goa Gembul yang berada di Dusun Gembul, Desa Jadi, Kecamatan Semanding, Kabupaten Tuban.

.

Meski awal Suro baru jatuh pada Selasa (7/12) ini, tempat keramat itu sudah mulai menunjukkan aktivitas yang meningkat sejak beberapa hari terakhir. Sejumlah warga mulai mendatangi goa di pinggir tebing perbukitan batu kapur –yang konon merupakan tempat rapat Walisongo pada zaman dulu– untuk menyiapkan ritual pada bulan Suro ini.

.

Juru kunci Gembul, Samidin, 50, membenarkan bahwa aktivitas paling banyak di petilasan Walisongo tersebut adalah saat bulan Suro. “Setiap tahun selalu kita adakan ritual rutin. Waktunya, pada Kamis Pon malam Jumat Wage pada bulan Suro. Atau kalau tidak ada, maka dilaksanakan pada Kamis Kliwon, Malam Jumat Wage. Jadi bukan setiap tanggal satu Suro,” katanya.

.

Diungkapkan bapak empat anak yang sudah 11 tahun menjadi juru kunci Gembul tersebut, Suro-an di Gembul tidak pernah dipersiapkan sedemikian rupa. Hanya saja, ketika pas jadwalnya, banyak sekali warga yang datang dengan sendirinya dengan membawa ayam, kambing atau sapi untuk disembelih di halaman goa dan kemudian dimakan bersama-sama.

.

“Tidak ada undangan atau persiapan resmi. Mereka biasanya yang sedang melaksanakan nadzar,” ujarnya. “Seperti yang dulu pernah bertapa di sini kemudian bernadzar akan menyembelih sapi atau kambing ketika maksudnya itu terwujud. Kemudian nadzar itu dilaksanakan pada saat Suro-an seperti ini,” tambahnya mencontohkan.

.

Sejumlah warga yang biasa bertapa atau melakukan ritual di Gembul berasal dari seluruh penjuru Indonesia. Mulai dari Jawa Timur sendiri, Jawa Tengah, Jawa Barat hingga Sulawesi dan Kalimantan.

.

Tujuannya bermacam-macam. Mulai dari yang sekedar lelakon ilmu kanuragan, mencari kesembuhan penyakit sampai yang ingin mendapatkan jabatan.

.

Bahkan, menurut Samidin, Bupati Tuban Haeny Relawati bersama suami juga pernah berkunjung ke Gembul. “Banyak yang ke sini, mulai pejabat, aparat atau orang-orang yang memang gemar bertapa di tempat-tempat seperti ini.

.

Gembul sendiri kuranglebih sejak 2 tahun lalu sudah direnovasi sedemikian rupa dengan tembok yang ditutup mori dan beralas keramik. Dana renovasi dari sumbangan para pengunjungnya. Konon, dahulu kala Gembul adalah tempat berkumpulnya para Wali Songo untuk mengadakan rapat sebelum membagi wilayah perjuangan di tanah Jawa.

.

Goa di perbukitan batu kapur ini terbagi menjadi tiga ruang yang dulunya hanya disekat dengan kayu dan kain mori. Ruang pertama untuk mengaji, ruang tengah untuk bertapa dan ruang paling ujung terdapat ranjang peninggalan para wali yang sampai sekarang masih ada.
“Ruang itulah konon tempat berkumpulnya sembilan wali,” kisahnya.

.

Termasuk tangga dari kayu yang terpasang disana juga masih asli peninggalan sejak zaman dulu. Selain itu, juga ada batu besar berbentuk bulat panjang di depan goa yang dinamakan Batu Gajah. Konon, batu tersebut dulunya untuk tempat menali gajahnya para wali yang sedang rapat. “Tapi bukan gajah seperti pada umumnya,” kata Samidin.

.

Warga yang ingin berkunjung ke Gembul, syaratnya tidak boleh sombong. Wanita yang sedang datang bulan juga tidak diperkenankan meski hanya menginjak tangga. “Pernah ada pertapa dari Jawa Tengah yang sombong. Saat pertama masuk dia mengaku sudah terbiasa bertapa dan lokasi seperti ini dianggap enteng. Tapi, ketika masuk di ruang tengah tubuhnya langsung berputar-putar sambil berteriak-teriak histeris,” ungkap juru kunci ini.

.

Sedangkan untuk wanita, pernah juga ada segerombol siswi yang sedang berkemah nekat masuk dalam keadaan datang bulan. Beberapa jam kemudian mereka kesurupan sampai menggelepar-gelepar.

.

Uniknya, sebagian besar warga disekitarnya malah tidak berani masuk ke Gembul dengan alasan takut. Mereka khawatir karena tingkah polah mereka dalam keseharian akan berdampak ketika masuk ke petilasan para wali itu. (M.Tfk)

Nah sahabat jika tertarik kunjungi tuban agar bisa meruak lebih dalam goa gembul. Kembali tersaji bukan untuk dipuji apalagi dihina, namun tersaji hanya untuk dinikmati...

Sunan Bonang, Sebarkan Islam Dengan Lembutnya Filsafat Cinta

Minggu, 28 November 2010 | 0 komentar

IA anak Sunan Ampel, yang berarti juga cucu Maulana Malik Ibrahim. Nama kecilnya adalah Raden Makdum Ibrahim. Lahir diperkirakan 1465 M dari seorang perempuan bernama Nyi Ageng Manila, puteri seorang adipati di Tuban.

Sunan Bonang belajar agama dari pesantren ayahnya di Ampel Denta. Setelah cukup dewasa, ia berkelana untuk berdakwah di berbagai pelosok Pulau Jawa. Mula-mula ia berdakwah di Kediri, yang mayoritas masyarakatnya beragama Hindu. Di sana ia mendirikan Masjid Sangkal Daha.

Ia kemudian menetap di Bonang -desa kecil di Lasem, Jawa Tengah -sekitar 15 kilometer timur kota Rembang.

Di desa itu ia membangun tempat pesujudan/zawiyah sekaligus pesantren yang kini dikenal dengan nama Watu Layar.

Ia kemudian dikenal pula sebagai imam resmi pertama Kesultanan Demak, dan bahkan sempat menjadi panglima tertinggi.

Meskipun demikian, Sunan Bonang tak pernah menghentikan kebiasaannya untuk berkelana ke daerah-daerah yang sangat sulit.

Ia acap berkunjung ke daerah-daerah terpencil di Tuban, Pati, Madura maupun Pulau Bawean. Di Pulau inilah, pada 1525 M ia meninggal. Jenazahnya dimakamkan di Tuban, di sebelah barat Masjid Agung, setelah sempat diperebutkan oleh masyarakat Bawean dan Tuban.

Tak seperti Sunan Giri yang lugas dalam fikih, ajaran Sunan Bonang memadukan ajaran ahlussunnah bergaya tasawuf dan garis salaf ortodoks. Ia menguasai ilmu fikih, usuludin, tasawuf, seni, sastra dan arsitektur. Masyarakat juga mengenal Sunan Bonang sebagai seorang yang piawai mencari sumber air di tempat-tempat gersang.

Ajaran Sunan Bonang berintikan pada filsafat 'cinta'('isyq). Sangat mirip dengan kecenderungan Jalalludin Rumi. Menurut Bonang, cinta sama dengan iman, pengetahuan intuitif (makrifat) dan kepatuhan kepada Allah SWT atau haq al yaqqin. Ajaran tersebut disampaikannya secara populer melalui media kesenian yang disukai masyarakat. Dalam hal ini, Sunan Bonang bahu-membahu dengan murid utamanya, Sunan Kalijaga.

Sunan Bonang banyak melahirkan karya sastra berupa suluk, atau tembang tamsil. Salah satunya adalah "Suluk Wijil" yang tampak dipengaruhi kitab Al Shidiq karya Abu Sa'id Al Khayr (wafat pada 899). Suluknya banyak menggunakan tamsil cermin, bangau atau burung laut. Sebuah pendekatan yang juga digunakan oleh Ibnu Arabi, Fariduddin Attar, Rumi serta Hamzah Fansuri.

Sunan Bonang juga menggubah gamelan Jawa yang saat itu kental dengan estetika Hindu, dengan memberi nuansa baru. Dialah yang menjadi kreator gamelan Jawa seperti sekarang, dengan menambahkan instrumen bonang. Gubahannya ketika itu memiliki nuansa dzikir yang mendorong kecintaan pada kehidupan transedental (alam malakut). Tembang "Tombo Ati" adalah salah satu karya Sunan Bonang.

Dalam pentas pewayangan, Sunan Bonang adalah dalang yang piawai membius penontonnya. Kegemarannya adalah menggubah lakon dan memasukkan tafsir-tafsir khas Islam. Kisah perseteruan Pandawa-Kurawa ditafsirkan Sunan Bonang sebagai peperangan antara nafi (peniadaan) dan 'isbah (peneguhan). (ar/oaseqalbu)

ISLAMISASI DI TUBAN

Selasa, 02 November 2010 | 0 komentar


BELUM dapat diketahui secara pasti, pengaruh Islam masuk ke wilayah Tuban. Berdasarkan Babad Tuban, Islam masuk antara kurun waktu 1432-1450, ditandai ketika Harya Dhikara (1432-1450) sebagai Bupati Tuban memeluk agama Islam. Sedangkan berdasarkan berita dari China yang ditulis oleh Ma Hua dalam sebuah pelayaran pada tahun 1413-1415, di pesisir Tuban telah terdapat orang-orang muslim dari barat, jawa dan tiong-hua. Mengingat besarnya peran pedagang dalam menyebarkan Islam, maka dapat diperkirakan pada 1413 Islam sudah masuk di Tuban.

Pada tahun 1413 atau kurun waktu 1432-1450 Islam masih belum dapat diterima oleh sebagian besar masyarakat Tuban. Dalam tulisan Ma Hua juga dijelaskan bahwa masyarakat Tuban sebagian besar masih mengagumi kebudayaan Hindu-Budha. Sebagian besar diantara mereka masih menyembah berhala. Masyarakat Tuban terutama kaum bangsawan sangat tertarik pada hal-hal yang mengandung unsur mistik, jadi kurang begitu memungkinkan jika Islam disebarkan oleh para pedagang yang notabene masyarakat biasa.

Penyebaran Islam di Tuban secara intensif dan dapat diterima baru ketika jaman para Wali Sembilan mulai menyebarkan agama. Metode yang digunakan supaya ajaran Islam dapat diterima adalah dengan memasukkan kedalam unsur-unsur tradisi. Metode ini digunakan karena masyarakat Tuban sangat menjunjung tinggi adat dan istiadatnya, dengan cara ini Islam lebih muda diterima karena tidak mengubah adat dan tradisi yang ada.

Melihat karekteristik masyarakat Tuban, maka Sunan Ampel mengutus Sunan Bonang untuk menyebarkan agama Islam di Wilayah Tuban. Karena beliau adalah salah satu sunan yang mengerti tentang seni dan tradisi Hindu-budha.

SUNAN BONANG

Sunan Bonang merupakan salah satu dari Sembilan wali penyebar Islam di jawa. Letak makamnya ada dikelurahan Kutorejo sebelah barat masjid agung Tuban. Sunan Bonang diperkirakan lahir tahun 1465, dengan nama Raden Maulana Makdun Ibrahim. Beliau putra Raden Rahmat atau lebih dikenal Sunan Ampel dalam pernikahannya dengan Nyai Ageng Manila. Sunan Bonang juga dianugrahi gelar Raden Nyakra Kusuma oleh Wali Lanang.

Makdun Ibrahim sejak kecil telah dipersiapkan oleh sunan Ampel sebagai penyebar Agama Islam di Nusantara. Sunan Bonang sejak kecil telah diajari oleh Sunan Ampel tentang ajaran Agama Islam. Menginjak usia remaja beliau diutus oleh Sunan Ampel untuk belajar agama ke Pasai. Di Pasai Sunan Bonang bersama Sunan Giri berguru pada Syekh Awwalul Islam, beliau juga belajar kepada para ulama besar yang banyak menetap di Negeri Pasai, seperti ulama ahli tasawuf yang berasal dari Bagdad, Mesir, Arab dan Persi atau Iran. Sepulang dari Pasai, Makdun Ibrahim diutus oleh Sunan Ampel untuk menyebarkan Islam di Jawa terutama, Kediri, Lasem, Jepara, Tuban, Bawean dan Madura.

Sunan Bonang dan Sunan Giri memang belajar Islam bersama, namun dalam penyebaran Agama beliau berdua menggunakan teknik yang berbeda. Sunan Giri lebih bersifat ortodok, ajaran beliau condong pada ilmu fiqih, syariah, teologi. Sedangkan Sunan Bonang, tanpa mengabaikan Ajaran Islam menggunakan pendekatan Tasawuf dan kesusastraan. Beberapa sumber Sejarah Jawa termasuk suluk ciptaan beliau telah mencatat bahwa Sunan Bonang sangat aktif dalam kegiatan sastra, mistik, seni lakon, dan seni kriya.

Sunan Bonang dalam berdakwa, terkenal piawai mewarnai kondisi saat itu dengan corak ajaran Islam. Sehingga beberapa kegiatan yang sebenarnya bukan merupakan tuntunan dalam Islam, menjadi seperti ajaran Islam. Sunan Bonang juga menciptakan gending Darmo serta berusaha mengganti hari-hari naas menurut kepercayaan Hindu dan nama-nama Dewa Hindu digantinya dengan nama-nama Malaikat dan Nabi sesuai ajaran Islam. Kepiawaian Sunan Bonang juga dibuktikan dengan adanya suluk-suluk ciptaan beliau dengan bahasa prosa, yang berisikan tentang ajaran Islam. Kitap ini dinamakan Suluk Kangkung Sunan Bonang, dan kemungkinan berisikan ajaran-ajaran Sunan Bonang yang diberikan kepada murid-muridnya.

Kesemua metode yang digunakan oleh Sunan Boneng itu di dasari oleh ajaran Islam dengan filsafat ketuhanan Sunan Bonang. Adapun filsafat Sunan Bonang adalah, bahwa iman, tauhid dan makrifat itu terdiri dari pengetahuan yang sempurna, sekiranya orang hanya mengenal makrifat saja, maka belumlah cukup, sebab ia masih insaf akan itu. Maksud Sunan Bonang adalah bahwa kesempurnaan barulah akan tercapai hanya dengan terus menerus mengabdi kepada Tuhan. Seseorang itu tiada mempunyai gerakan sendiri, begitu pula tidak mempunyai kemauan sendiri. Dan seseorang itu adalah seumpama buta, tuli dan bisu. Segala gerakannya itu datang dari Allah.

Metode dakwah yang digunakan Sunan Bonang sangat efektif dan tidak merubah tatanan tradisi yang telah ada. Tradisi Islam dan Hindu-Budha hidup saling berdampingan, bahkan tradisi Islam yang dibawa oleh Sunan Bonang berkesinambungan dengan tradisi Hindu yang sudah ada, seperti Nampak pada peninggalan kepurbakalaan Sunan Bonang. Hanya saja, semua tetap bernafaskan Islam.

Fakta Sejarah yang mendukung kesinambungan tradisi Islam Sunan Bonang dan tradisi Hindu adalah dengan ditemukannya Kalpataru pada komplek makam Sunan Bonang. Menurut Suwardjan dan Siti Alfiah yang disebut Kalpataru adalah sebuah karya bercabang lima dan berukir tersebut terlihat adanya bangunan yang dinaungi pohon-pohon. Bagunan tersebut antara lain bangunan rumah bertiang lima dan hiasan kepala binatang yang sudah tidak jelas lagi bentuknya. Di samping itu juga terdapat relief suatu bangunan yang menyerupai bangunan jandi Jawa Timur. Bangunan itu mempunyai tangga masuk dinaungi pula oleh pepohonan. Pada cabang-cabang kayu terdapat naga yang melilit pada kayu tersebut, tetapi sudah dalam keadaan rusak dan rapuh.

Semasa Perjuangan menyebarkan Islam, Sunan Bonang dikenal sebagai pendukung utama Kerajaan Demak. Berkat Sunan Bonang pengaruh kesultanan Demak di Tuban semakin besar seiring bertambahnya penganut Islam di Tuban. Beliau juga memiliki jasa besar dalam mendirikan Masjid Agung Bintoro, Demak.

MASA KESULTANAN DEMAK

Semakin besar masyarakat Majapahit yang memeluk islam, terutama di Tuban, Menjadikan kekuatan Majapahit semakin melemah. Karena daerah-daerah yang telah menganut Islam memilih bergabung ke Demak. Hal ini akan lebih menguntungkan karena Kesultanan Demak dengan mereka seiman dan diyakini membawa sebuah harapan baru untuk hidup sejahtera.

Besarnya penganut Islam dan banyaknya ahli agama di Tuban yang memiliki ilmu mistik seperti Sunan Bonang, memberikan suntikan moral bagi Tuban untuk melepaskan diri dari bayang-bayang Majapahit. Sehingga ketika penyerangan Raden Patah ke Majapahit, Tuban di bawah kekuasaan Raden Haryo Tedjo ikut membantu Raden Patah untuk menyerang majapahit. Majapahitpun akhirnya jatuh ke tangan Demak, dan Tuban menjadi salah satu wilayah dari Demak.

Kehadiran Tuban bagi Demak memberikan keuntungan tersendiri, baik dari Ekonomi maupun kekuatan militer laut. Tuban kemudian di jadikan tempat perdagangan dan galangan kapal, karena geografis Tuban yang sangat strategis. Selain letaknya dekat laut, bahan baku pembuatan kapal juga banyak tersedia di Tuban. Hal ini menjadikan Tuban menjadi salah satu daerah terpenting, karena dari Tuban banyak menyuplai kapal untuk Demak.

WAYANG, Budaya Seni yang ADILUHUNG

Rabu, 20 Oktober 2010 | 0 komentar

PADA tanggal 7 November 2003, UNESCO memberikan peng hargaan pada kesenian wayang Indonesia sebagai Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity. Hal ini karena wayang memiliki kelebihan sebagai seni budaya Indonesia yang kaya akan karya seni, seperti seni peran, seni suara, seni music, seni sastra, seni lukis, seni pahat, dan juga seni perlambang.
 
Para pecinta wayang tentu mengenal tokoh-tokoh pewayangan seperti Pandawa Lima, Punakawan, Astina, Amarta, Bima, dan lain sebagainya. Wayang adalah pagelaran seni tradisional yang banyak digemari oleh masyarakat Jawa dan sekitarnya. Bahkan kesenian ini memiliki nama yang berbeda-beda di tiap daerah.

Adalah para sunan Walisongo yang telah memberikan makna menarik untuk kesenian wayang. Sunan Kalijaga adalah salah satu tokoh Walisongo yang mengatur sedemikian rupa kesenian ini menjadi tiga bagian. Pertama, Wayang Kulit di Jawa Timur, member isyarat dan makna kepada masyarakat, mana yang hanya kulit (Wayang Kulit). Kedua, Wayang Wong atau Wayang Orang di Jawa Tengah, member isyarat pada masyarakat, mana yang berisi (Wayang Wong). Ketiga adalah Wayang Golek di Jawa Barat, yang member isyarat, mana yang harus dicari (Golek).

Di tangan Walisongo, wayang bisa dijadikan sebagai alat da’wah yang sarat makna. Kendari masyarakat Jawa pada waktu itu masih banyak yang menganut kepercayaan animism dan dinamisme, namun para pentebar ajaran Islam di tanah Jawa tidak kurang akal untuk mendekatkan ajaran-ajaran Islam melalui kesenian yang digandrungi oleh masyarakat Jawa pada waktu itu.

Sunan Kalijaga atau Raden Said misalnya. yang tak lain adalah putera dari Adipati Tuban, selalu memilih tempat yang tidak jauh dari masjid ketika menggelar pagelaran wayang. Di sekeliling tempat pagelaran wayang itu ia lalu  membuat parit yang mengalir di dalamnya air yang jernih. Parit ini dibuat untuk melatih para penonton wayang agar mencuci kaki sebelum masuk masjid. Sebuah makna simbolis tentang widhu yang disampaikan dengan bijak.

Dengan kehadiran para Walisongo ini, wayang yang dulunya masih menggambar wujud manusia utuh diubah polanya agar tidak menyerupai manusia lagi. Para wali kemudian membuat wayang yang dibuat dari kulit kambing sednga kedua tangan sejajar kedua kakinya. Maka wayang juga diubah sehingga tak menyerupai manusia.

Penggunaan Istilah Arab

Menurut penelitian para ahli sejarah kebudayaan, wayang merupakan budaya asli Indonesia. Meski cerita wayang populer saat ini banyak diadaptasi dari karya-karya sastra Insia, namun induk ceritanya banyak  mengalami perubahan ketika bertemu dengan da’wah Islam di Jawa.

Perubahan ini terlihat pada kehadiran sosok Punakawan. Punakawan adalah konsep filsafat yang memperkuat bahwa di dunia ini tak ada makhluk yang benar-benar baik, dan tak ada yang benar-benar jahat. Setiap makhluk selalu menyandang unsur kebaikan dan kejahatan sesuai sifat dan tabiatnya masing-masing.

Figur Punakawan dalam tokoh pewayangan (Semar, Gareng, Petruk, Bagong) memiliki makna yang berbeda-beda dan mendalam, Bahkan jika nama-nama Punakawan itu dirangkai dalam satu kalimat akan menjadi sebuah kalimat yang cukup bermakna “Sammir Ilal Khairi Fatruk Minal Bagho”

Ketika ditelusuri dan diteliti, nama-nama Punakawan seperti Semar, Gareng, Petruk, Bagong,  sebenarnya berasal dari bahasa Arab. Semar/Sammir berarti siap sedia. Gareng/Khair berarti kebaikan/kebagusan, Petruk/Fatruk berarti meninggalkan, sedangkan Bagong/Bagho artinya lalim atau kejelekan.

Secara tak langsung ini adalah ajakan (da’wah) yang diserukan para wali zaman dahulu agar meninggalkan kepercayaan animisme, dinamisme, dan kepercayaan-kepercayaan lain menuju ajaran Islam. Maka wajar jika Punakawan ini disusun secara berurutan, Semar, Gareng Petruk, dan Bagong, akan terbaca arti maknanya : “Berangkatlah menuju kebaikan maka kamu akan meninggalkan kejelekan.

Selain Punakawan, istilah-istilah lain dalam pewayangan juga banyak berasal dari istilah Arab. Misalnya, kata Astina yang diistilahkan sebagai nama kerajaan para penguasa yang lalim, lebih dekat dengan kata Asy-Syaithan. Rajanya, Duryudana, lebih dekat dengan kata Durjana. Setiap orang jahat (durjana), pasti akan menemukan kekalahan dan menjadi teman setan di neraka.

Ketika seorang dalang memerankan Bala Astina dalam pentas wayang, tentu merek adi sebelah kiri bergabung dengan para raksasa. Sedangkan Pandawa selalu di sebelah kanan. Hal ini menggambarkan bahwa yang baik dan yang buruk itu berbeda.
Karena itu, dalam cerita wayang, Kurawa dan Astina selalu berbuat jahat pada Pandawa Lima. Astina merampas semua hak Pandawa, dan mencoba menghabisi nyawa para Pandawa dengan berbagai cara.
Sementara itu, tokoh pewayangan yang dikenal kuat, perkasa, dan berjiwa ksatria adalah, Bima atau Werkudara. Ia memiliki kekuatan yang disebut Dodot Bangbang Tulu Aji dan Kuku Pancanaka. Maksud ajian itu adalah Bima diselimuti tiga ilmu, yaitu Iman, Islam, dan Ihsan. (kata Tulu aji bermakna tiga aji, atau tiga kekuatan.red)

Sedangkan Kuku Pancanaka merupakan kekuatan untuk melengkapi Dodot Bangbang Tulu Aji. Kuku Pancanaka memiliki arti kekuatan Lima Waktu. Apabila kedua kekuatan itu digunakan, maka itu merupakan simbolisasi yang berarti apabila telah memiliki Iman, Islam, dan Ihsan, maka tak akan pernah meninggalkan shalat lima waktu.

Kata dalang sendiri diambil dari kata dalla’ yang berarti menunjukkan jalan yang benar. Wayang-wayang ini akan digerakkan dalam beberapa cerita islami karya walisongo, seperti cerita Jimat Kalisada (Kalimat Syahadat), Dewa Ruci, Petruk jadi Raja, dan Wahyu Hidayat (Wahyu petunjuk).

Peranan wayang ini bergantung pada kemahiran seseorang dalang dalam menyuguhkan pagelaran wayang yang  sarat muatan moral. Ia memiliki amanat sebagai juru bicara dalam menyampaikan kritik, saran, pendidikan agama, dan lain sebagainya. Karena itu, seorang dalang hendaknya tak hanya pandai memainkan tokoh wayang dan senda gurau saja, tetapi harus menguasai ilmu, khususnya ilmu agama.

Jika seorang dalang tidak menguasai ilmu tersebut, maka tak heran jika dalam pegelaran wayang tak ditemukan lagi muatan moral, kejujuran, akhlak, dan nilai-nilai Islam sesuai dengan harapan Sunan Kalijaga dulu. (rm.com)

ARTI LAMBANG KABUPATEN TUBAN

Kabupaten Tuban memiliki lambang daerah yang dijadikan identitas diri. Disetiap gambar dari lambang kabupaten Tuban memilik pengertian masing masing. Dalam satu keutuhan akan menjadi ciri khusus (identitas) maupun cita0cita luhur Kabupaten Tuban.


ARTI PADA LAMBANG KABUPATEN TUBAN

Lambang kabupaten Tuban terbagi atas 8 bagian yaitu :

1. Bentuk Perisai Putih yang bersudut lima

Dengan jiwa yang suci murni dan hati yang tulus iklas masyarakat Tuban menjunjung tinggi Pancasila. Sekaligus merupakan perisai masyarakat dalam menghalau segenap rintangan dan halangan untuk menuju masyarakat adil dan makmur yang diridloi oleh Tuhan Yang Maha Esa.

2. Kuda Hitam dan Tapal Kuda Kuning

Kuda hitam adalah kesayangan Ronggolawe, pahlawan yang diagungkan oleh masyarakat Tuban karena keikhlasannya mengabdi kepada negara, watak kesatriannya yang luhur dan memiliki keberanian yang luar biasa. Tapal kuda Ronggolawe berwarna kuning emas melingkari warna dasar merah dan hitam melambangkan kepahlawanan yang cermelang dari Ronggolawe.

3. Gapura Putih

Melambangkan pintu gerbang masuknya Agama Islam yang dibawakan oleh “Wali Songo” antara lain Makdum Ibrahim yang dikenal dengan nama Sunan Bonang, dengan itikat yang suci murni dan hati yang tulus ikhlas, masyarakat Tuban melanjutkan perjuangan yang pernah dirintis oleh para “Wali Songo”.

4. Bintang Kuning bersudut lima

Rasa Tauhid kepada Tuhan Yang Maha Esa yang memancar didada tiap-tiap insan rakyat Tuban memberikan kesegaran dan ketangguhan iman, dalam berjuang mencapai cita-cita yang luhur.

5. Batu hitam berbentuk umpak dan pancaran air berwarna biru muda

Menunjukan dongeng kuno tentang asal kata Tuban. Batu hitam berbentuk umpak ialah Batu-Tiban dari kata ini terjadilah kata Tuban. Pancaran air atau sumber air ialah Tu-Banyu (mata ir) menjadi kata Tuban.

6. Pegunungan berwarna hijau, daun jati dan kacang tanah

Tuban penuh dengan pegunungan yang berhutan jati dan tanah-tanah pertanian yang subur dengan tanaman kacang tanah. Pegunungan berwarna hijau mengandung arti masyarakat Kabupaten Tuban mempunyai harapan besar akan terwujudnya masyarakat yang adil makmur yang diridloi Tuhan Yang Maha Esa.

7. Perahu emas, Laut biru dengan gelombang putih sebanyak tiga buah.

Sebelah utara Kabupaten Tuban adalah lautan yang kaya raya, yang merupakan potensi ekonomi Penduduk pesisir Kabupaten Tuban. Penduduk Pesisir utara adalah nelayan-nelayan yang gagah berani. Dalam kedamaian dan kerukunan masyarakat Daerah Kabupaten Tubanuntuk membangun daerahnya menghadapi tiga sasaran yaitu:
1. Pembangunan dan peningkatan perbaikan mental dan kerohanian.
2. Pembangunan ekonomi.
3. Pembangunan Prasarana yang meliputi jalan-jalan, air dsb.

8. Keterangan angka

1. Lekuk gelombang laut sebanyak 17 melambangkan tanggal 17.
2. Lubang tapal kuda berjumlah 8 melambangkan bulan Agustus.
3. Daun dan biji jati melambangkan angka 45.
dengan demikian masyarakat Kabupaten Tuban menjnjung tinggi hari Proklamasi Kemerdekaan Negara Indonesia. Semangat Proklamasi menjiwai perjuangan dan cita-cita masyarakat Kabupaten Tuban.

Di Kesempatan kali ini kami mencoba memposting tentang tempat wisata di Kabupaten Tuban

A. Goa Akbar

Goa akbar adalah salah satu tempat wisata yang cukup popouler di kabupaten tuban,tempatnya yang cukup strategis,yang tepatnya terletak di pinggir pasar baru tuban,sehingga banyak wisatawan yang berkunjung kesana,bukan hanya keelokan pemandangan(arsitektur batu,keindahan panorama dll) tapi juga karena tiket masuknya yang murah(Kurang dari 5ribu perak)

B.MAKAM SUNAN BONANG

Makam sunan adalah tempat wisata yang sangat sering di kunjungi oleh wisatawan atau warga tuban khususnya Umat islam karena selain untuk menikmati panorama yang ada di sekitarnya,juga merupakan tempat untuk berziarah,dan selain itu kita juga bisa membeli segala peralatan sholat disana

C. AIR TERJUN NGLIRIP

Tempat ini merupakan tempat wisata di tuban yang berada di kecamatan singgahan lokasinya yang dekat hutan dan memiliki pemandangan yang luar biasa indahnya menjadi daya tarik tersendiri di air terjun nglirip ini,selain itu di sini juga tidak di pungut biaya alias gratisssss.

D. MASJID AGUNG TUBAN

Masjid agung merupakan masjid yang terbesar di kabupaten Tuban selain digunakan untuk tempat beribadah juga bisa di gunakan untuk tempat singgah sementara bagi wisatawan dari luar kota,masjid ini lokasinya dekat alon-alon dan berdampingan dengan Makam Sunan Bonang,sehingga sering di sebut ‘Tiga Serangakai’ wisata Tuban.

E. KLENTENG KWAN SING BIO

Di Tuban juga ada Klenteng Kwan Sing Bio,Klenteng tersebut merupakan klenteng terbesar di Asia Tenggara jadi tidak mengherankan jika klenteng tersebut sangat banyak di kunjungi berbagai macam wisatawan,klenteng ini mempunyai keunikan antara lain adalah simbolnya,dimana umumnya simbol klenteng itu naga tapi klenteng Kwan Sing bio justru mempunyai simbol Kepiting,lokasinya yang menhadap ke laut juga mempunyai daya tarik tersendiri.

F. PEMANDIAN BEKTIHARJO

Bektiharjo merupakan salah satu wisata yang terletak di kecamatan semanding tuban,tempat ini banyak di minati oleh para remaja yang ada di wilayah tuban bahkan sampai di luar tuban karena selain digunakan sebagai tempat refreshing juga sebagai tempat Untuk pacaran,dan bektiharjo juga memiliki tempat pemandian yang cukup besar,mulai dari anak-anak sampai orang yang udah bau tanah atau alias udah kakek-kakek bisa kesana.

G. GOA NGERONG

Goa ngerong merupakan wisata yang terletak di kecamatan rengel alias tempat yang cukup tinggi dari kabupaten tuban tapi meskipun lokasinya agak tinggi kecamatan ini sering terkena banjir(Menurut teman kami rIski Toha),kadang – kadang wista ini sepi karena terhalang banjir,meskipun begitu tempat ini masih Eksis untuk menarik para wisatawan karena pemandanganya yang sangat indah(Tapi berhati-hatilah konon kalau ada seseorang yang mengambil ikan dari sana akan terkena kutukan 100tahun atau bisa-bisa anda Turex alias tidak laku kawin.

Category List

MARDIYAN RONGGOLAWE. Diberdayakan oleh Blogger.
PEMERINTAHAN

Kabupaten Tuban terdiri dari 19 kecamatan yaitu: Bancar, Bangilan, Grabagan, Jatirogo, Jenu, Kenduruan, Kerek, Merakurak, Montong, Palang, Parengan, Plumpang, Rengel, Semanding, Senori, Singgahan, Soko, Tambakboyo, Widang Sedangkan Kota Tuban sendiri terdiri dari 17 kelurahan yaitu :Doromukti, Sidorejo, Kingking, Kebonsari, Mondokan, Latsari, Sidomulyo, Karang Sari, Ronggomulyo, Baturetno, Sukolilo, Perbon, Sendangharjo, Kutorejo, Karang, Gedongombo, Panyuran

WISATA DAN CINDERAMATA

Di kota Tuban kita bisa mengunjungi beberapa obyek wisata, di antaranya Gua Akbar, Masjid Agung, Makam Sunan Bonang,Ngerong Rengel, Pemandian Bektiharjo, Air Panas Prataan, Air Terjun Nglirip,Goa Suci,Makam Syeh Maulana Ibrahim Asmaraqandi dan Pantai Boom. Cenderamata khas yang bisa dibeli adalah kain tenun (batikgedog) dengan motif yang sangat khas. Motif khas ini juga bisa kita temui dalam bentuk kaos, baju wanita, dan selendang. Disamping itu ada juga cinderamata berupa miniatur tempat berjualan Legen (minuman khas tuban) yang disebut "ONGKEK". Bentuknya seperti tempat berjualan Soto tetapi terbuat dari bambu. Miniatur ini banyak dijual di toko yang menjual oleh-oleh khas Tuban. Selain itu, Tuban juga terkenal sebagai kota Tuak (atau toak dalam bahasa lokal). Tuak adalah cairan (legen)dari tandan buah pohon lontar (masyarakat menyebutnya uwit bogor) yang difermentasikan sehingga sedikit memabukkan karena mengandung alkohol. Sedianya legen dibuat menjadi gula jawa, atau dapat juga langsung diminum sebagai minuman yang menyegarkan dan tentu saja, tidak memabukkan, selain itu buah dari pohon lontar (ental atau siwalan ) ini juga bisa dimakan dan berasa manis serta kenyal.

ASAL-USUL

Kota Tuban memiliki asal usul dalam beberapa versi yaitu yang pertama disebut sebagai TU BAN yang berarti waTU tiBAN (batu yang jatuh dari langit) yaitu batu pusaka yang dibawa oleh sepasang burung dari Majapahit menuju Demak, dan ketika batu tersebut sampai di atas Kota Tuban, batu tersebut jatuh dan dinamakan Tuban. Adapun versi yang kedua yaitu berarti meTU BANyu berarti keluar air, yaitu peristiwa ketika Raden Dandang Wacana (Kyai Gede Papringan) atau Bupati Pertama Tuban yang membuka Hutan Papringan dan anehnya, ketika pembukaan hutan tersebut keluar air yang sangat deras. Hal ini juga berkaitan dengan adanya sumur tua yang dangkal tapi airnya melimpah, dan anehnya sumur tersebut dekat sekali dengan pantai tapi airnya sangat tawar. Ada juga versi ketiga yaitu TUBAN berasal dari kata 'Tubo' atau Racun yang artinya sama dengan nama kecamatan di Tuban yaitu Jenu.

GEOGRAFI

Luas wilayah Kabupaten Tuban 183.994.561 Ha, dan wilayah laut seluas 22.068 km2. Letak astronomi Kabupaten Tuban pada koordinat 111o 30' - 112o 35 BT dan 6o 40' - 7o 18' LS. Panjang wilayah pantai 65 km. Ketinggian daratan di Kabupaten Tuban bekisar antara 0 - 500 mdpl. Sebagian besar wilayah Kabupaten Tuban beriklim kering dengan kondisi bervariasi dari agak kering sampai sangat kering yang berada di 19 kecamatan, sedangkan yang beriklim agak basah berada pada 1 kecamatan. Kabupaten Tuban berada pada jalur pantura dan pada deretan pegunungan Kapur Utara. Pegunungan Kapur Utara di Tuban terbentang dari Kecamatan Jatirogo sampai Kecamatan Widang, dan dari Kecamatan Merakurak sampai Kecamatan Soko. Sedangkan wilayah laut, terbentang antara 5 Kecamatan, yakni Kecamatan Bancar, Kecamatan Tambakboyo, Kecamatan Jenu, Kecamatan Tuban dan Kecamatan Palang. Kabupaten Tuban berada pada ujung Utara dan bagian Barat Jawa Timur yang berada langsung di Perbatasan Jawa Timur dan Jawa Tengah atau antara Kabupaten Tuban dan Kabupaten Rembang.Tuban memiliki titik terendah, yakni 0 m dpl yang berada di Jalur Pantura dan titik tertinggi 500 m yang berada di Kecamatan Grabagan. Tuban juga dilalui oleh Sungai Bengawan Solo yang mengalir dari Gresik menuju Solo

SUKU BUDAYA

Tuban mayoritas Suku Budayanya adalah Suku Jawa dan minoritas diantaranya adalah suku lain, seperti suku Madura, suku cina, suku Kalimantan, dll. Kebudayaan asli Tuban beragam, salah satunya adalah sandur. Budaya lainnya adalah Reog yang banyak ditemui di Kecamatan Jatirogo.

PENDIDIKAN

Kualitas Pendidikan di Tuban tergolong sangat baik. Terbukti dengan adanya 3 sekolah yang bertaraf internasional, antara lain, SMP Negeri 1 Tuban, SMA Negeri 1 Tuban, dan SMK Negeri 1 Tuban,SMP Negeri 3 Tuban serta puluhan SMP dan SMA yang bertaraf Nasional. Menurut rencana, ada 1 SD yang akan bertaraf internasional, yakni SD Negeri 1 Kebonsari dan 2 SMP, yakni , SMP Negeri 5 Tuban, dan SMP Negeri 1 Rengel. Berbagai event lomba di juarai oleh pelajar Tuban. Banyak diantaranya adalah sekolah yang berkecimpung dalam dunia Karya Ilmiah Remaja, diantaranya adalah MTsN Tuban, SMP Negeri 1 Tuban, SMP Negeri 3 Tuban, SMP Negeri 4 Tuban, SMP Negeri 6 Tuban, SMP Negeri 7 Tuban, SMP Negeri 1 Rengel, SMP Negeri 1 Jenu, SMP Negeri 1 Jatirogo, SMP Negeri 1 Singgahan,SMA Negeri 3 Tuban,SMA Negeri 1 Tuban, SMA Negeri 2 Tuban, MAN TUBAN, dll. Selain Universitas Sunan Bonang ada institut pendidikan tinggi baru, yaitu Universitas Ronggolawe, yang pada awalnya dikenal sebagai IKIP PGRI TUBAN di Jalan Manunggal. Jurusan bahasa Inggris dari institut ini telah kerjasama dengan sebuah organisasi sukarela Inggris yang bernama Voluntary Service Overseas sejak tahun 1989. Setelah tiga sukarelawan, organisasi lain, yaitu Volunteers in Asia yang berasal dari Amerika Serikat meneruskan tradisi ini dengan mengekspos mahasisiwa serta dosen yang kurang sempat berlatih bahasa sehari-hari. Ketua jurusan Bapak Agus Wardhono telah menjadi doktor (S-3) dalam bidang Linguistik Inggris di Universitas Negeri Surabaya.

DAERAH VITAL KOTA TUBAN

Sebagai Kabupaten, Tuban memiliki tempat penting seperti Kantor Bupati Tuban, Pendopo Kridho Manunggal (yang pernah dirusak dan dibakar massa), Kantor DPRD, Masjid Agung Tuban, GOR Rangga Jaya Anoraga, dll.

TUBAN TEMPOE DOELOE

Pemerintahan Kabupaten Tuban ada sejak tahun 1293 atau sejak pemerintahan Kerajaan Majapahit. Pusat pemerintahannya dulu adalah di Desa Prunggahan Kulon kecamatan Semanding dan kota Tuban yang sekarang dulunya adalah Pelabuhan karena dulu Tuban merupakan armada Laut yang sangat kuat. Asal nama Tuban sudah ada sejak pemerintahan Bupati Pertama yakni Raden Dandang Wacana. Namun, pencetusan tanggal harijadi Tuban berdasarkan peringatan diangkatnya Raden Haryo Ronggolawe pada 12 November 1293. Tuban dulunya adalah tempat yang paling penting dalam masa Kerajaan Majapahit karena memiliki armada laut yang sangat kuat.

TUBAN PADA MASA PENYEBARAN AGAMA ISLAM

Tuban tidak hanya menjadi tempat penting pada masa Kerajaan Majapahit, namun Tuban juga menjadi tempat penting pada masa penyebaran Agama Islam. Hal tersebut dikarenakan Tuban berada di pesisir Utara Jawa yang menjadi pusat Perdagangan arab, dll yang sedang menyebarkan Agama Islam. Hal ini juga berkaitan dengan kisah Sunan Bonang dan Sunan Kalijaga. Sunan Kalijaga adalah putra dari Bupati Tuban VIII Raden Tumenggung Haryo Wilotikto. Sunan Kalijaga dikenal sebagai Brandal Loka Jaya, karena sebelum jadi Wali Sunan Kalijaga adalah brandal (preman) yang suka mencuri hasil kekayaan Kadipaten Tuban. Namun, hasil curian tersebut untuk para Fakir Miskin. Lama-kelamaan, perbuatan tersebut diketahui oleh ayahanda Sunan Kalijaga dan diusir dari Kadipaten Tuban. Dalam pengasingannya, Raden Mas Syahid (Sunan Kalijaga) bertemu dengan Sunan Bonang. Sunan Bonang memiliki Tongkat emas yang membuat Raden Syahid menjadi ingin memiliki tongkat tersebut. Sesaat kemudian, Sunan Kalijaga merebut tongkat emas dan Sunan Bonang jatuh tersungkur. Sunan Bonang menangis dan Sunan Kalijaga merasa iba. Akhirnya Sunan Kalijaga mengembalikan Tongkat Sunan Bonang dan Sunan Kalijaga bertanya bagian mana yang membuat beliau kesakitan. Namun, Sunan Bonang menangis bukan karena kesakitan, tapi beliau menangis karena memutuskan rumput dan beliau berkata bahwa beliau merasa kasihan karena rumput yang tidak bersalah harus mati tercabut karena kesalahan beliau. Sesaat kemudian, beliau menancapkan Tongkat di Pesisir dan menyemburkan air. Tempat tersebut dinamai Sumur Srumbung. Setelah itu, Sunan Bonang menunjukkan Buah Aren yang berwarna emas. Raden Syahidpun tergoda dan memanjat pohon aren tersebut, tapi sebuah aren menimpa kepala beliau dan beliaupun pingsan. Setelah sadar, Raden Syahid diajak Sunan Bonang menuju Sungai di daerah Sekardadi Kecamatan Jenu. Di sana, beliau menjaga tongkat Sunan Bonang yang ditancapkan pada sebuah batu. Anehnya, beliau tertidur selama 2 tahun. setelah sadar, Raden Syahid diberi pakaian dhalang oleh Sunan Bonang dan di Juluki Sunan Kalijaga, maksudnya Kali dalam bahasa Indonesia berarti sungai, dan Jaga dimaksudkan karena sudah menjaga tongkat Sunan Bonang.

TUBAN PADA MASA PENJAJAHAN

Perjuangan masyarakat Tuban dalam melawan penjajah sangatlah gigih. Dengan bersenjatakan Bambu Runcing, mereka melawan penjajah. Namun, strategi masyarakat Tuban adalah dengan menggunakan Tuak, maksudnya, Penjajah disuguhi minuman memabukkan tersebut. Ketika mereka sudah tidak sadarkan diri, mereka menyerang dan menghancurkan pos dan benteng pertahanan penjajah.

TUBAN MASA KINI

Seiring kemajuan zaman, Tuban sekarang tidak sepenting dulu. Tuban sekarang sudah mulai dilupakan oleh masyarakat Indonesia, padahal Tuban mengandung nilai sejarah tinggi dan besar peran serta perjuangan masyarakat Tuban dalam melawan penjajah itu sudah mulai luntur dalam dunia pemerintahan Indonesia saat ini.

Tuban Merupakan Kota Semen pada masa sekarang, Semen Gresik yang terkenal besar di Indonesia pada masa sekarang juga beroperasi dan mendirikan pabrik di daerah Tuban. Selain itu di Tuban juga terdapat beberapa industri skala internasional, terutama dibidang Oil & Gas. Perusahaan yang beroperasi di Tuban antaralain PETROCHINA (di kecamatan Soko) yang menghasilkan minyak mentah, serta ada juga PT. TPPI & PERTAMINA TTU (di kecamatan Jenu)

Untuk pendidikan Tuban tidak kalah dengan daerah lain dipulau jawa, sudah sangat sedikit masyarakat Tuban yang buta huruf bahkan tinggal seberapa persennya, untuk pendidikan rata-rata masyarakat sudah mencapai pendidikan SMA.

H. MUSEUM KAMBANG PUTIH

Museum kambang Putih merupakan satu-satunya museum yang berada di kabupaten tuban,Lokasinya yang sangat strategis alias di tengah kota Tuban lebih tepatnya lagi bersebelahan dengan alon-alon,masjid agung,dan makam sunan bonang cukup ramai di kunjungi penduduk setempat dan juga wisatawan dari luar kota,di museum kambang putih kita akan menemukan sejarah-sejarah jaman dahulu yang berada di Kabupaten Tuban.

Ads 468x60px

  • Code Test

    Suspendisse neque tellus, malesuada in, facilisis et, adipiscing sit amet, risus. Sed egestas. Quisque mauris. Duis id ligula. Nunc quis tortor. In hendrerit, quam vitae mattis...

Bookmark Us

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites

Featured Posts Coolbthemes

Search Box

 
© Copyright 2010-2011 apakabartuban All Rights Reserved.
Template Design by Herdiansyah Hamzah | Published by Borneo Templates | Powered by Blogger.com.