Photobucket
Tampilkan postingan dengan label BERITA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label BERITA. Tampilkan semua postingan

Atasi Macet Tahun Baru, Arus Pantura Tuban Direkayasa

Sabtu, 31 Desember 2011 | 0 komentar

Petugas lantas Polres Tuban memasang rambu baru.
TUBAN - Mengantisipasi kemacetan lalu lintas pada perayaan malam tahun baru, Sat Lantas Polres Tuban melakukan rekayasa arus lalu lintas di jalur Pantura dan sejumlah jalan protokol di dalam Kota Tuban.

Rekayasa lalu lintas ini berlaku sejak 31 Desember 2011 pukul 19.00 WIB hingga 1 Januari 2012 pukul 04.00 WIB.

Beberapa jalur Pantura yang mengalami perubahan antara lain jalan RE Martadinata, jalan Manunggal, dan jalan dr Wahidin Sudiro Husodo. Sementara jalur Protokol di dalam kota yang direkayasa dalah Jl Basuki Rahmat dan beberapa jalan lain di seputaran alun-alun.

"Tidak ada larangan kendaraan masuk ke dalam kota. Namun, kita melakukan rekayasa arus jalan untuk mengatasi kemacetan selama perayaan pergantian tahun," terang Kasat Lantas Polres Tuban AKP Sugeng Setya Trisna, Jumat (30/12/2011).

Untuk Jl RE Martadinata dan Jl Manunggal di buat satu jalur ke timur menuju Surabaya. Demikian halnya Jl Basuki Rahmat juga dialihkan menjadi satu jalur ke arah barat.

"Jalur dari Semarang kalau mengalami kemacetan bakal kita alihkan ke Jl dr Wahidin Sudiro Husodo melalui Jl Teuku Umar. Dan Jl Basuki Rahmat kusus ke arah barat," ungkap Kanit Turjawali Sat Lantas Polres Tuban Iptu Musa Bachtiar.

Dalam rekayasa jalur ini, pihaknya sudah terus melakukan sosialisasi kepada pengguna jalan. Selian itu, di beberapa sudut jalan juga telah dipasang rambu-rambu yang berlaku kusus selama malam tahun baru.

"Rambu ini hanya berlaku saat perayaan malam tahun baru. Sosialisasi juga terus kita lakukan ke pengguna jalan melalui pengeras suara di setiap perempatan jalan, selebaran dan sebagainya," sambung Musa Bachtiar. (tribunjatim.com)

Puting Beliung Mengamuk, 59 Rumah dan 2 Sekolah Rusak

Selasa, 27 Desember 2011 | 1 komentar

TUBAN - Angin puting beliung kembali menyerang Kabupaten Tuban, sebanyak 59 rumah milik warga beserta dua gedung sekolah yang berada di Desa Tegalsari, Kecamatan Widang, Kabupaten Tuban mengalami kerusakan. Berutung tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut hanya kerugian ditaksir mencapai puluhan juta rupiah.

Dari data yang berhasil dihimpun di lapangan, Senin (27/12/2011), dari 59 rumah, sebanyak 6 rumah milik warga mengalami kerusakan yang sangat parah.

Sebanyak enam rumah yang mengalami kerusakan terparah adalah rumah milik Warno, Sutopo, Suyanto, Simin, Tomo dan rumah milik Milah, kesemuanya adalah warga Desa Tegalsari, Kecamatan Widang Tuban.

"Karena bangunannya yang terbilang kuat jadi tidak ada rumah warga roboh, hanya mengalami kerusakan di bagian atapnya," ujar Abdul Fatah (30), salah satu warga desa setempat.

Terjangan angin puting beliung yang merusak puluhan rumah tersebut datang secara tiba-tiba sebelum hujan deras mengguyur wilayah desa tersebut, saksi mengetahui angin yang berwarna hitam berputar-putar di sekitaran pemukiman warga desa tersebut.

"Angin datangnya dari arah utara, kemudian langsung menerjang rumah-rumah hingga genteng berterbangan, dan pohon-pohon juga banyak yang roboh, setelah itu baru hujan deras," terang Fatah.

Mengetahui datangnya angin puting beliung tersebut, sejumlah warga desa setempat yang panik langsung berlarian keluar rumah untuk menyelamatkan diri, pasalnya mereka takut jika rumah mereka roboh dan tertimpa bangunan maupun genteng yang berterbangan.

Sementara itu, tidak ada korban luka maupun korban jiwa dalam peristiwa serangan angin puting beliuang tersebut, namun dari puluhan rumah warga yang rusak total kerugian yang dialami oleh warga mencapai puluhan juta rupiah.

"Saat ini warga secara gotong royong sudah melakukan perbaikan terhadap rumah warga yang menjadi korban angin dan mengalami kerusakan, sehingga supaya bisa untuk segera ditempati kembali," katanya. (beritajatim.com)

Demi Mencukupi Kebutuhan, Ibu Kedung Ombo Rela Mengayuh Becak

Jumat, 23 Desember 2011 | 0 komentar


TUBAN -- Bagi sebagian orang, mengayuh becak adalah pekerjaan kasar dan hanya cocok dilakukan kaum adam. Anggapan itu tak berlaku bagi seorang ibu di Tuban, Jawa Timur. Demi mencukupi kebutuhan sehari-hari, ia rela mengayuh pedal becak nyaris sepanjang hari.

Ya itulah Kastini. Sudah 15 tahun berjalan ini, warga Kelurahan Kedung Ombo, Kecamatan Kota, Kabupaten Tuban, itu mencari nafkah dengan mengais becak. Meski terkesan tak lazim, semangat perempuan berusia 45 tahun itu tak luntur. Itu semua demi mencukupi kebutuhan hidup 7 anaknya.

Ditemani salah satu anaknya, Dewi yang berumur 4 tahun, sejak pagi Kastini sudah mangkal di antara ratusan tukang becak lainnya di kawasan Terminal Wisata Sunan Bonang Tuban. Kastini mungkin adalah satu-satunya tukang becak wanita di antara ratusan tukang becak di terminal itu. Namun ia tak pernah merasa malu dengan profesinya. Kastini ikhlas membantu suaminya, Kasminto, yang bekerja sebagai sopir serabutan. Untuk menambah penghasilan, Kastini menitipkan jualan minuman dan jajanan di sebuah kedai kecil di sekitar rumahnya.

Bercermin dari kehidupan sosok Kastini, betapa berharganya jerih payah tetesan keringat seorang ibu. Semangatnya seolah menghapus beban berat dalam mengarungi kehidupan berkeluarga.(Metrotvnews)

Nenek Bakul Gelali Kembangilo, Berjalan Puluhan Kilometer Demi Sesuap Nasi

Kamis, 22 Desember 2011 | 2 komentar

Mbok Kasiyah membuat gulali di rumah sederhananya.
TUBAN - Kasih ibu tiada tara. Setidaknya hal itu ditunjukkan oleh Kasiyah, penjual gulali berusia 75 tahun asal Dusun Lidan, Desa Kembangbilo, Kecamatan Kota, Tuban yang sepenuh hati menyayangi Tuminah, anak angkatnya yang buta sejak lahir hingga kini berusia 30 tahun.

       Belum genap matahari menampakkan wajahnya pagi itu, tapi kesibukan di sebuah rumah dari bambu berukuran 3 x 4 meter di Dusun Lidan sudah terlihat dari luar. Tungku api berbahan bakar kayu nampak menyala dari dalam rumah dengan banyak lubang yang hanya memiliki satu sekat sebagai pembatas kamar dan dapur.

       Rumah yang lebih layak di sebut gubuk itu adalah tempat tinggal Kasiyah bersama anak angkatnya, Tuminah. Sejak berpuluh tahun silam, keduanya tinggal berdua dengan segala keterbatasan yang mereka miliki. Pagi buta sebelum matarahi terbit, Kasiyah harus beranjak dari tidurnya untuk memulai aktivitas membuat gulali.

       Gula, kunyit, kelapa dan beberapa bahan telah disiapkan sejak malam menjelang tidur. Pagi harinya, Kasiyah memulai pembuatan gulali dengan merebus gula dengan air kunyit dan kelapa yang sudah di iris kecil-kecil sampai mendidih hingga berubah bentuknya menjadi seperti lem. Adonan itu terus diaduk agar pematangan merata. Setelah mengental atau lengket, mulailah proses penuangan di sebuah loyang dari kayu.

Setelah didiamkan selama dua jam, gulali bikinan Kasiyah siap dijajankan. Tapi, perjuangan nenek 75 tahun ini belum berhenti. Tubuh ringkih yang sudah membungkuk itu harus berkeliling dari kampung satu ke kampong lainnya untuk menjajakan gulali yang telah dibuatnya.

Sambil menggendong dagangannya, Mbah Kasiyah harus berjalanan kaki puluhan kilometer supaya dagangannya laku dan dirinya mendapatkan uang untuk menyambung hidup. Rata-rata, ia baru kembali pulang saat matahari mulai meredup di ujung barat.

“Kalau jaman dulu, tidak sampai lama gulali se Loyang bisa langsung habis. Tapi sekarang ini sulit sekali laku. Anak-anak sudah jarang yang suka jajan gulali,” ujar Kasiyah saat ditemui di rumahnya yang sangat sederhana itu.

Satu tusuk gulali bikinan Kasiyah hanya dijual Rp 500. Dan kalau satu Loyang gulali yang dibuatnya itu habis, nenek yang rambutnya sudah penuh uban ini hanya mendapatkan untung sekitar Rp 10.000 sampai Rp 15.000. Jelas sangat sedikit jika dibandingkan kerja kerasa yang harus dilakukannya mulai membuat hingga berjalan keliling kampung menempuh
puluhan kilometer itu.

Tapi apa boleh buat, tidak ada pilihan lain bagi Kasiyah untuk mendapatkan rizki guna mencukupi kebutuhan hidupnya. Uang hasil berjualan sehari digunakan untuk membeli sejumlah bahan, dan sisanya untuk membeli kebutuhan sehari-hari. “Sejak masih muda, saya sudah berjualan gulali. Dan hanya ini usaha yang bisa saya lakukan untuk mendapatkan uang supaya bisa tetap makan,” ungkap wanita renta yang tidak pernah mengeluh dan selalu berusaha mandiri untuk memenuhi kebutuhannya itu.

Tentang kisah hidupnya, Kasiyah bercerita bahwa dirinya pernah empat kali menikah. Pernikahan pertama gagal dengan perceraian, sedangkan tiga lelaki berikutnya yang menikahinya semuanya telah meninggal dunia. Namun, empat pernikahan itu tidak satupun dikaruniai anak.

Sampai memasuki usai senja, dirinya merasa kesepian. Hingga akhirnya, Kasiyah mengadopsi seorang bayi wanita dari tetangganya yang mengalami kebutaan sejak lahir. Bayi bernama Tuminah itu terus dirawatnya penuh kasih sayang hingga sekarang memasuki usianya yang ke 30 tahun. “Dia ini anak angkat. Tapi, sudah terasa seperti anak kandung sendiri
karena sejak lahir sudah ikut dengan saya,” ujarnya.

Saban hari, Tuminah hanya berada di rumah sambil sesekali membantu kesibukan ibu angkatnya. Bahkan, Tuminah yang buta itu juga sama sekali tidak pernah mengenyam pendidikan lantaran keterbatasan ekonomi Kasiyah. Namun, kasih sayang Kasiyah seperti sudah cukup untuk mengisi hari-hari Tuminah. Segala usaha yang dilakoni Kasiyah sejak pagi buta hingga sore itu, semua demi mencukupi kebutuhan hidup bersama anaknya yang buta.

Sesekali, Kasiyah berpikir tentang masa depan Timunah jika ditinggal olehnya yang sudah senja. “Saya sangat berharap ada orang yang mau peduli dan merawatan anak saya ini setelah saya tidak mampu lagi untuk bekerja. Saya sudah tua, tidak mungkin bisa kuat terus berjualan seperti ini,” keluhnya.

Tentang Hari Ibu, Kasiyah maupun Tuminah sama-sama tidak tahu dan seperti tidak peduli. Maklum, bagi mereka tidak ada yang lebih penting daripada terus berusaha dan bekerja keras untuk mencukupi hidup supaya tidak merepotkan orang lain. Tapi, kasih sayang yang dicurahkan Kasiyah kepada anak angkatnya itu benar-benar luar biasa. Ia seperti telah memilih untuk mengabdikan semua jiwa raganya demi kebahagiaan Tuminah. (surya)

Petani Soko Tewas Disamber Bledhek

Rabu, 21 Desember 2011 | 0 komentar

TUBAN -- Nasib naas menimpa Masri (50), petani Desa Mentoro, Kecamatan Soko, Tuban. Masri tewas tersambar petir saat bertani di sawahnya, Rabu (21/12/2011).

Menurut sejumlah warga, peristiwa ini bermula saat korban bersama rekannya, Nyomi, Supinah dan Parmi sedang sibuk mengerjakan sawah mereka di desa setempat.

Di tengah kesibukannya itu, tiba-tiba hujan turun dengan lebat. Namun, para petani memilih untuk tetap melanjutkan pekerjaan yang mereka lakukan di sawah.

"Saat itulah, petir menyambar dan mengenai tubuh Masri. Ia langsung meninggal dunia dengan tubuh gosong," ujar Sardi, warga setempat.

Tak sampai lama, sejumlah warga berkerumun di lokasi kemudian mengevakuasi korban menuju rumahnya. Demikian halnya petugas kepolisian yang mendapat laporan atas peristiwa ini juga langsung menuju lokasi kejadian.

"Dari hasil pemeriksaan di jenazah korban, diketahui ada luka bakar di baguan kepala atas, dada sebelah kiri dan dada bagian kanan," ujar Kasubag Humas Polres Tuban AKP Noersento.

Berdasar pemeriksaan terhadap jenazah korban serta keterangan dari sejumlah saksi, disimpulkan bahwa korban murni tewas akibat disambar petir. Selanjutnya, jenazah korban diserahkan ke pihak keluarga untuk dimakamkan.(surya)

Perempuan Tuban Demo Desak DPRD Bikin Perda KDRT

Selasa, 20 Desember 2011 | 0 komentar

TUBAN -- Puluhan aktivis perempuan dari empat lembaga di wilayah Kabupaten Tuban, menggelar aksi unjuk rasa di DPRD Tuban. Mereka menuntut DPRD segera membuat Peraturan Daerah (Perda) tentang perlindungan kaum perempuan dan anak terhadap kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).

Aksi dalam bentuk teatrikal itu dilakukan, setelah 2 bulan sebelumnya mereka meminta bertemu (hearing) dengan DPRD untuk membahas rangkaian kasus KDRT tak ditanggapi.

Akhirnya para aktivis dari Koalisi Perempuan Ranggalawe (KPR) Tuban, Rumah Perempuan Kokoh (PRK), Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Tuban dan Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Tuban menggelar aksi di gedung wakil rakyat tersebut.

Dalam aksinya, para aktivis memvisualisasi kasus kekerasan terhadap pembantu rumah tangga (PRT) asal Tuban, Malena, di Surabaya dalam bentuk teater. Para aktivis memainkan peran masing-masing dalam kasus penganiayaan terhadap PRT di rumagh keluarga pasutri, Eddie Budianto (50), dan Tan Fang May, (47). Tak ketinggalan pula ditampilkan pula anaknya, Ezra Tantoro Suryaputra (27) dan Rony Agustian Hutri (32) yang terlibat dalam penganiayaan.

Para Polwan dan sejumlah anggota dewan yang menyaksikan teatrikal itu terhenyak. Mereka larut dalam aksi teatrikal yang berisi kekerasan dan penganiayaan terhadap Marlena. Sejumlah Polwan menitikkan airmata, melihat aksi para aktivis tersebut.

"Sungguh biadab perbuatan majikan terhadap pembantu seperti itu," kata seorang Polwan dari Polres Tuban berparas ayu menanggapi aksi di depan pintu masuk utama Gedung DPRD Tuban di Jalan Teuku Umar-Tuban, Selasa (20/12/2011).

Usai aksi teatrikal para aktivis mendesak untuk bertemu dengan Ketua DPRD Tuban Kristiawan. Semula DPRD meminta 10 perwakilan untuk bertemu, namun ditolak para aktivis. Akhirnya setelah beberapa anggota Dewan yang mencoba menemuinya ditolak, sekitar 30 aktivis diterima langsung oleh Ketua Dewan, Kristiawan.

"Kami meminta ada Perda yang melindungi perempuan dan anak dalam KDRT. Ini sangat mendesak karena kasus KDRT yang menjadikan perempuan dan anak-anak korban makin naik di Tuban," tegas Suwarni, di samping sejumlah aktivis perempuan kepada DetikSurabaya.com di lokasi aksi.

Dia mengungkapkan, kekerasan terhadap perempuan dan anak di Tuban pada
tahun 2010 terdata di KPR Tuban mencapai 98 kasus. Sedangkan untuk tahun ini hingga bulan November 2011 jumlahnya merangkak menjadi 112 kasus. Tren angka kekerasan tersebut cenderung naik dari tahun ke tahun, namun di Tuban belum ada Perda yang melindungi perempouan dan anak.

Ketua DPRD Tuban Kristiwan di hadapan para aktivis menyatakan, pihaknya akan menindaklanjuti tuntutan dari para aktivis tersebut. Dia menjadwalkan untuk melakukan pertemuan lagi dengan para aktivis untuk membahas isi rancangan Perda tentang perlindungan terhadap perempuan dan anak.

"Kami akan membahas dulu di internal DPRD, untuk selanjutnya bertemu lagi dengan para aktivis terkait penyusunan Raperda tentang perlindungan terhadap perempuan dan anak," tegas Kristiwan.

Usai bertemu politisi muda dari Partai Golkar Tuban itu, para aktivis membubarkan diri.(detik.com)

Lagi ! Puting Beliung Terjang 5 Rumah di Tuban

| 0 komentar

Warga gotong royong bersihkan rumah.
TUBAN - Lima rumah warga di Desa Tuwiri Wetan dan Tuwiri Kulon, Kecamatan Meraurak, Tuban ambruk akibat diterjang angin puting beliung, Senin (19/12/2011).

Selain itu, puluhan rumah di dua desa tersebut juga mengalami kerusakan pada bagian atapnya akibat angin kencang yang datang bersamaan dengan hujan deras.

“Ada Lima rumah yang ambruk. Dan belasan rumah rusak bagian atapnya karena diterjang angin kencang dan tertimpa pohon,” kata Sadi, warga setempat. Menurut sejumlah warga, bersamaan hujan deras, angin datang dari arah Selatan kencang sekali.

Suaranya bergemuruh dan menghantam sejumlah rumah di permukiman penduduk tersebut.

Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini. Sebab, ketika angin kencang datang, warga langsung berusaha menyelamatkan diri dengan cara berlarian keluar rumah.

Akibat bencana ini, kerugian ditaksir mencapai puluhan juta rupiah. Dan usai kejadian, sejumlah warga nampak gotong-royong memperbaiki rumah yang rusak disapu angin.

“Dari lima rumah yang roboh dan sejumlah rumah yang rusak bagian atapnya, ditaksir kerugian mencapai puluhan juta rupiah,” ujar Kepala Desa Tuwiri Wetan Setyo Budi.(Tribunnews.com)

Mimik Toak Nyambi Nogel, Wong Doromukti Diciduk

Minggu, 18 Desember 2011 | 1 komentar

TUBAN -- Petugas kepolisian dari jajaran Polres Tuban berhasil menangkap seorang pengepul judi togel yang biasa beoperasi dan menjual kupon togel dari warung ke warung, pelaku berhasil ditangkap saat mengedarkan kupon togel saat berada di warung tuwak.

Pelaku pengepul judi togel yang berhasil ditangkap oleh petugas kepolisian adalah Sukri (72), warga Kelurahan Doromukti, Kecamatan Kota, Kabupaten Tuban, kakek-kakek tersebut berhasil ditangkap saat mengedarkan kupon togel tersebut disebuah warung tuwak yang berada di kelurahan tersebut.

Penangkapan bermula saat petugas dari anggota Polres Tuban mendapatkan informasi terkait adanya transaksi penjualan kupon nomer togel yang berada di sebuah warung tuwak tersebut."Kemudian anggota langsung melakukan penyelidikan dengan langsung terjun ke lapangan," jelas Akp Nursento, Kasubbag Humas Polres Tuban, Jumat (16/12/2011).

Saat melakukan penyelidikan ditempat warung tempat pelaku minum tuwak itu, petugas mendapati pelaku sedang mengedarkan kupon judi togel tersebut kepada para warga yang berada di tempat tersebut. "Saat dilakukan pemeriksaan petugas mendapati pelaku membawa 2 lembar rekapan nomer togel, selain itu juga berhasil mengamankan uang tunai sebesar Rp 69.000," sambungnya.

Kemudian setelah terbukti menjadi pengepul judi jenis togel tersebut, petugas yang berada di lapangan langsung menangkap Sukri dan kemudian langsung di bawa ke Polres Tuban untuk dilakukan penyelidikan lebih lanjut, terkait judi jenis togel tersebut.  (beritajatim.com)

Mayat di Pantai Tuban Ternyata PNS

Jumat, 16 Desember 2011 | 0 komentar

Jenazah Basuki saat dievakuasi dari lokasi kejadian.
TUBAN -- Sosok mayat di pantai pesisir wilayah Kecamatan Kota Tuban yang ditemukan dua hari lalu ternyata seorang pegawai negeri sipil (PNS) di lingkungan Pemkab Tuban. Bapak satu anak yang tinggal di Kawasan Kecamatan Plumpang ini bernama Basuki (40), sehari-harinya salah seorang staf Kantor Perekonomian dan Pariwisata Bidang Perdagangan setempat.

Informasi yang diperoleh, dikabarkan dia sedang mengalami persoalan keluarga. Hampir dua minggu ini ia tidak pulang ke rumahnya. Bahkan, korban sempat mengirimkan SMS ke salah seorang kakaknya yang tinggal di Banyuwangi. Isinya: “Apakah seperti yang engkau inginkan. Saya mau bunuh diri”.

Teman-teman korban di lingkungan tempatnya bekerja kaget setelah melihat gambar korban yang memakai sepatu merk Polo disemua surat kabar lokal. “Jarang orang yang pakai merk ini dan warna dan bentuknya seperti yang dipakai Basuki. Apalagi waktu kita bel  hp-nya tidak aktif,” tutur salah seorang rekannya.

Bermula dari dugaan ini, teman-teman kerja korban memastikan ke RSUD dr. Koesma Tuban. Ternyata benar, sosok tersebut adalah Basuki. (lensaindonesia.com)

Jual Arak, Warga Gedungombo Diciduk

| 0 komentar

TUBAN -- Suparlik (42) warga Kelurahan Gedongombo, Kecamatan Semanding, Tuban terpaksa digelandang ke Mapolres Tuban karena kedapatan menjual minuman keras jenis arak di warung miliknya.

Selain mengamankan pelaku, polisi juga menyita 48 botol arak yang dibungkus menggunakan empat kardus besar sebagai barang bukti.

"Penjual arak beserta barang dagangannya sudah kita amankan dan saat ini masih menjalani pemeriksaan penyidik," ujar Kasubag Humas Polres Tuban AKP Noersento, Jumat (16/12/2011).

Penggrebekan terhadap penjual arak ini bermula dari banyaknya keluhan masyarakat. Setelah dilakukan penyelidikan dan terbukti di warung tersebut menyediakan arak, petugas langsung melakukan penggrebekan.

"Minuman keras biasanya menjadi pemicu awal terjadinya tindak kriminalitas. Dan warung tersebut sudah banyak dikeluhkan warga karena menjual minuman keras serta kerap digunakan ajang pesta Miras," sambung Noersento. (tribunjatim.com)

Rumah Terbakar, Tewas Terpanggang

Kamis, 15 Desember 2011 | 0 komentar

Warga mengerumuni rumah yang terbakar.
TUBAN – Rabu (14/12/11) malam, menjadi hari berkabung bagi kelurga Ismail (55). Selain rumahnya di Dusun Sumberan Desa Dagangan Kecamatan Parengan, ludes dilalap api, anaknya juga tewas menjadi korban amukan si jago merah.

Marjuin (35), anak Ismail, tewas terpanggang api yang membakar rumahnya. Korban tidak sempat menyelamatkan diri karena pada saat kejadian, ia tengah tertidur pulas dan tidak mengetahui jika rumahnya terbakar.

Menurut warga, api diduga berasal dari korsleting listrik yang terjadi sekitar pukul 23.30 WIB. Saat itu, hanya korban yang berada di dalam rumah. Api baru diketahui warga ketika sudah membesar. Meski beberapa warga sekitar sudah berupaya memadamkan api, namun karena rumah sebagian besar terbuat dari kayu, api cepat membesar dan menghanguskan seisi rumah.

Api baru dapat dipadamkan warga satu jam kemudian. Namun, warga tidak berhasil menyelamatkan korban yang berada di dalam rumah dan menemukan korban sudah tewas dalam posisi terlentang tak bernyawa. Saat kejadian, ayah korban, Ismail beserta istrinya sedang tidur dirumah salah satu anaknya yang tidak jauh dari rumahnya.

“Saat api sudah padam dan warga masuk ke rumah, korban sudah terbakar di dalam dan sudah meninggal,” ungkap Abdul Rozak, salah satu warga yang ikut berusaha memadamkan api.

Lantaran panik, warga juga tidak sempat menghubungi pihak pemadam kebakaran. Polisi yang datang ke lokasi juga dalam keadaan api sudah mulai padam. Korban dievakuasi warga dari reruntuhan kayu yang terbakar sebelum dimakamkan pada pagi hari. (jurnalberita.com)

Mayat Tak Dikenal Ditemukan di Pantai Tuban

| 0 komentar

TUBAN -- Warga perkampungan nelayan wilayah Kelurahan Karangsari Kecamatan Kota Tuban Kabupaten Tuban Kamis (15/12/2011)  dini hari tadi dikejutkan dengan ditemukannya sesosok mayat tergeletak dipesisir wilayah tersebut. Sosok yang diperkirakan berumur sekitar 40 tahun berambut pendek, memakai sepatu pantofel, kaos pendek merah serta celana biru tersebut ditemukan Kurdi, salah seorang nelayan setempat dalam posisi terbaring diatas pasir. ‘’Saya minta cepat  teman-teman lapor polisi,’’ tutur Kurdi yang pagi itu berniat mencari ikan dengan menjala.

Kasubag Humas Polres Tuban AKP Nursento membenarkan penemuan mayat tak dikenal tersebut. Menurutnya, hasil dari pemeriksaan sementara belum ada petunjuk yang mengarah pada penganiayaan dan sejenisnya. ‘’Tubuh korban tidak ada luka-luka,’’ tutur Nursento.

Mayat  tak dikenal tersebut masih berada di RSUD dr. Koesma Tuban hingga sore ini. Pihak Polres Tuban mengaku masih menunggu barangkali ada keluarga korban yang kehilangan anggotanya.(lensaindonesia.com)

Tuban, Pelanggan Banjir, Tapi Tak Punya BPBD

| 0 komentar

Sungai Bengawan Solo
TUBAN - Kabupaten Tuban merupakan daerah langganan bencana. Terutama, bencana banjir yang datang setiap kali  musim hujan tiba. Termasuk banjir luapan sungai Bengawan Solo maupun  banjir bandang yang kerap melanda sejumlah daerah. Kendati demikian, Tuban belum memiliki perangkat daerah yang kusus bertugas untuk menangani bencana yang terjadi.

Daerah yang menjadi langganan banjir luapan Bengawan Solo di Tuban antara lain, Kecamatan Soko, Rengel, Plumpang dan Kecamatan Widang. Hampir bisa dipastikan, setiap kali musim hujan tiba dan volume air Bengawan Solo meluap, sejumlah permukiman penduduk dan area pertanian di empat Kecamatan tersebut selalu terendam banjir. Saking seringnya, masyarakat di sana sudah tidak kaget lagi ketika tempat tinggalnya terendam air luapan sungai terpanjang di Pulau Jawa ini.

“Hampir setiap tahun terjadi banjir di sini. Biasanya, kalau air bengawan sudah penuh karena mendapat kiriman dari daerah hulu dan akibat hujan deras yang mengguyur dalam waktu yang lama,” kata Takim, warga Kecamatan Rengel yang rumahnya kerap menjadi langganan banjir.

“Harapan kami, pemerintah membangun tanggul yang mumpuni supaya tidak ada lagi air bengawan yang meluber ke kampong,” imbuhnya.

Sedangkan banjir bandang, biasanya menerjang kawasan Kecamatan Kota, Meraurak, Palang, dan Kecamatan Parengan. Daerah ini kerap dilanda banjir bandang lantaran lokasinya berada di bawah kawasan perbukitan. Biasanya, permukiman penduduk dan area persawahan di empat wilayah itu diterjang banjir setelah hujan deras mengguyur dalam waktu yang cukup lama. Dan salah satu penyebab utamanya adalah banyaknya hutan gundul akibat pembalakan liar.

“Banjir yang terjadi di Palang biasanya setelah hujan mengguyur deras dan sungai tidak mampu menampung air. Bahkan, sering sekali sungai yang ada tersebut jebol dan airnya meluber ke permukiman penduduk,” kata Imam, warga Kecamatan Palang. "Penyebabnya, hutan di perbukitan dan gunung-gunung sudah banyak yang gundul sehingga tidak mampu lagi menahan air,” tambahnya.

Dikonfirmasi mengenai kondisi ini, Wakil Bupati (Wabup) Tuban Noor Nahar Hussein menyatakan bahwa selama ini penanganan bencana di Tuban hanya dilakukan oleh Satkorlak yang berada di bawah naungan Bakesbang Linmas. Dan diakui bahwa penanganan oleh Satkorlak tersebut belum bisa maksimal. “Memang, Tuban belum memiliki Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) seperti yang ada di daerah-daerah lain. Untuk membentuk itu, harus ada Perda (peraturan daerahnya), dan Tuban belum memiliki Perdanya,” jawab Noor Nahar.

Dengan tidak adanya badan yang kusus menangani bencana, Pemkab Tuban juga tidak memiliki dana kusus untuk penanggulangan bencana. “Karena tidak ada badan yang kusus menangani, anggaran untuk  penanggulangan bencana juga tidak ada secara kusus. Hanya saja, selama ini untuk penanganan bencana diambilkan dari anggaran tak terduga,” ungkap politisi PKB ini.

Untuk tahun 2012, dana tak terduga Pemkab Tuban mencapai Rp 20 miliar. Meski tidak sepenuhnya untuk penanganan bencana, namun Wabup menyampaikan bahwa semua penanganan bencana yang terjadi di Tuban bakal diambilkan dari anggaran tak terduga tersebut.

Memasuki musim penghujan kali ini, Wabup mengaku bahwa pihaknya juga telah melakukan berbagai upaya untuk penanganan jika sewaktu-waktu banjir datang. Diantaranya adalah dengan mempersiapkan semua puskesmas di daerah rawan banjir sebagai posko penanganan. Selain itu, juga telah disiapkan sejumlah peralatan penanganan banjir seperti perahu karet, pompa penyedot air dan sebagainya. Bahkan, pihaknya juga mengaku telah menyiapkan 100 ton beras untuk warga jika sewaktu-waktu terjadi bencana. (tribunjatim.com)

Kecelakaan di Jl Sunan Kalijogo Tuban, Ibu Muda Tewas

| 0 komentar

TUBAN - Na'as menimpa Siti Norcahya Watiningsih (35), seorang ibu rumah tangga asal Desa Bogorejo, Kecamatan Merakurak, Tuban. Ia tewas setelah terjatuh dari motor yang dikendarainya dan dihantam sepeda motor lain di Jl Sunan Kalijogo, Tuban, Rabu (14/12/2011).

Menurut sejumlah warga, kecelakaan maut ini bermula saat korban mengendari sepeda motor Nopol S 5484 EO dari barat. Sesampai di lokasi, korban menabrak sebuah sepeda motor di depannya hingga akhirnya jatuh ke aspal jalan.

Setelah terjatuh, korban kemudian ditabrak sepeda motor S 3215 HQ, yang di kendarai oleh Arifin Jasmito (39) warga Desa Kembangbilo, Kecamatan Kota Tuban yang melaju dari arah berlawanan.

“Korban terlebih dulu terjatuh, kemudian ditabrak sepeda motor lain dari arah berlawanan,” ujar Ari, salah satu warga di lokasi kejadian.

Akibat kecelakaan yang terjadi di saat hujan gerimis ini, korban tewas di lokasi kejadian dengan luka parah di bagian kepala dan sejumlah tubuhnya. Termasuk sepeda motor yang dikendarainya juga mengalami kerusakan yang cukup parah.

Tak sampai lama, sejumah petugas kepolisian tiba di lokasi kejadian. Selain mengevakuasi jenazah korban, petugas juga mengamankan kedua kendaraan yang terlibat kecelakaan.

 “Termasuk pengendara motor yang telah menabrak korban dan sejumlah  saksi lain juga masih dalam pemeriksaan petugas,” kata Kasat Lantas Polres Tuban AKP Sugeng Setia Trisna. (surya)

Nginap di Hotel, Mahasiswi Akbid & Pacarnya Diciduk

Selasa, 13 Desember 2011 | 0 komentar

TUBAN -- Mahasiswi Akademi Kebidanan Muhammadiyah Surabaya, DA (21), warga Lamongan, bersama pacarnya ANF (22), warga Duduksampeyan, Kabupaten Gresik, terjaring razia saat berduaan di kamar 19 Hotel Indonesia Tuban. Razia gabungan polisi, TNI, dan Satuan Polisi Pamong Praja itu juga menjaring pasangan Um (21), warga Bojonegoro, dan Nr (22), warga Modo, Kabupaten Lamongan, di hotel yang sama.

Kepala Kepolisian Sektor Kota Kabupaten Tuban Ajun Komisaris Yani Susilo, Selasa (13/12/2011), menjelaskan, razia itu dalam rangka mengantisipasi tindak kejahatan menjelang Natal dan Tahun Baru 2012. Petugas gabungan memeriksa identitas warga yang menginap di hotel yang ada di Tuban.

Di Hotel Indonesia pada Senin malam ada dua pasangan bukan suami istri dalam satu kamar. Mahasiswi Akbid yang sedang magang di rumah sakit di Tuban terjaring saat berduaan bersama pacarnya di Hotel Indonesia.

"Kami mendata untuk proses lebih lanjut. Orangtua mahasiswa kami panggil untuk memberikan pembinaan. Razia intensif digelar hingga tahun baru," tutur Yani. (kompas.com)

Asyik Mandi di Kali, Nyawa Melayang

Senin, 12 Desember 2011 | 0 komentar

TUBAN - Lima bocah tenggelam saat mandi di sungai Dusun Kunir, Desa/Kecamatan Plumpang, Tuban. Empat berhasil ditemukan selamat dan satu bocah ditemukan dalam keadaan sudah tidak bernyawa, Senin (12/12/2011) pagi.

Empat pelajar SD yang berhasil diselamatkan itu diketahui bernama Dimas, Depi, Wandri dan Yanu. Sementara korban tewas adalah Boy, yang baru ditemukan setelah beberapa jam dilakukan pencarian di sungai.

"Awalnya, lima bocah itu mandi dan bermain bersama di sungai pada Minggu sore. Tiba-tiba, air sungai yang sedang deras menyeret mereka hingga semuanya tenggelam," ujar Ali, warga setempat.

Melihat itu, sejumlah warga berupaya menyelamatkan korban. Namun, hanya empat anak yang berhasil diselamatkan. Sedangkan satu korban baru berhasil ditemukan setelah warga dan petugas SAR melakukan pencarian sampai Senin pagi.

"Pencarian diteruskan sampai malam hari. Tapi baru sekitar pukul 03.00 WIB satu korban yang tersisa itu berhasil ditemukan di dasar sungai dalam keadaan sudah meninggal dunia," imbuhnya.

Setelah ditemukan, korban lantas diserahkan ke pihak keluarga setelah beberapa saat menjalani pemeriksaan medis petugas kepolisian. Pihak keluarga pun langsung histeris begitu melihat bocah kelas 4 SD itu pulang dalam keadaan sudah tidak bernyawa. (TRIBUNJATIM.COM)

Nelayan Tuban Demo Kantor Kelurahan Karangsari

| 0 komentar

TUBAN - Puluhan nelayan berunjukrasa di Kantor Kelurahan Karangsari, Kecamatan Kota, Tuban, Senin (12/12/2011). Mereka protes lantaran bantuan dari pemerintah pembagiannya tidak merata.

Tahun 2011 ini kelompok nelayan Karangsari mendapat bantuan sebesar Rp 100 juta dari pemerintah pusat. Tapi, bantuan itu tidak diterima merata oleh para nelayan.

"Sudah tiga kali ada bantuan turun, tapi yang menerima hanya kerabat-kerabatnya ketua kelompok nelayan saja," ujar Supriyono, salah satu nelayan yang ikut berunjuk rasa, senin (12/12/2011).

Menurutnya, ketua kelompok nelayan Karangsari adalah Kasmari. Dan orang-orang yang menerima bantuan ini adalah para nelayan yang berstatus keluarga Kasmari atau nelayan-nelayan lain yang akrab dengan Kasmari.

"Banyak yang sudah kaya dan mampu tapi malah beberapa kali menerima bantuan. Sementara kami yang tidak punya apa-apa malah tidak pernah menerima," teriak para nelayan di halaman kantor Kelurahan.

Mereka mendesak, Kasmari harus bertanggung jawab atas pembagian bantuan yang tidak merata. Sementara itu, di dalam kantor kelurahan masih berlangsung perundingan antara Kasmari, Kapolsek Kota Tuban, pihak kelurahan dan perwakilan dari Dinas Kelautan Tuban. (surya)

Tuban Banjir Bandang, Siswa Diliburkan

Rabu, 07 Desember 2011 | 0 komentar

Tuban - Hujan deras disertai angin puting beliung, Rabu (7/12/2011) dini hari menyebabkan banjir bandang di wilayah empat desa di Kecamatan Merakurak Kabupaten Tuban. Akibatnya, puluhan rumah, tempat ibadah, pondok pesantren dan madrasah ibtidaiyah di desa setempat terendam.

Sedangkan desa yang diterjang banjir bandang di Kecamatan Merakurak diantaranya, Desa Mandirejo, Sambonggede, Bogorejo dan Desa Sumber. Selain itu Ponpes Nurul Jadid, di Desa Mandirejo sekaligus bangunan MI Salafiyah di kompleks pondok terendam. Para siswa MI terpaksa diliburkan karena ruang kelas tak bisa dipakai proses belajar mengajar.

Hingga pukul 10.00 WIB, ketinggian air bercampur tanah berkisar 50-80 Cm. Banjir yang datang dari arah selatan, diperkirakan dari lereng lembah Lemah Beser dan Lembah Tegalrejo. Akibatnya 150 unit rumah dan sejumlah akses jalan terganggu.

Informasi yang dihimpun dari lokasi bencana menyebut, air bah datang secara mendadak setelah hujan deras selamam. Banjir bandang ini sebenarnya telah diantisipasi warga, karena lokasi empat desa langganan banjir.

Menurut sejumlah warga, banjir yang terjadi sejak adzan subuh itu merupakan luberan dari sungai desa setempat. Sungai itu selalu meluap jika hujan deras. Hanya saja yang menyedihkan banjir kali ini merupakan luapan air yang membawa tanah sehingga warnanya keruh kemerahan.

"Banjir kali ini sangat menyusahkan, tidak seperti banjir sebelumnya. Lihat saja kondisinya sangat buruk," kata Muhlisin warga setempat saat ditemui di Desa Mandirejo Kecamatan Merakurak.

Warga berharap pemerintah setempat tanggap dengan melakukan pengerukan sungai sehingga banjir dapat teratasi. Jika tetap dibiarkan bisa jadi banjir akan terulang dan tentunya akan merupakan penduduk di wilayah tersebut. (detik.com)

Agen Arak Tuban di Batu Digerebek

| 0 komentar

Arak tuban yang diamankan.
UNIT Reserse Kriminal (Reskrim) Polsek Junrejo, kemarin (6/12) menggerebek sebuah rumah di Jl Sair No 47, Desa Beji, Kecamatan Junrejo, Kota Batu. Penggerebekan ini dilakukan petugas karena disinyalir pemilik rumah Sunaryo (56) menjual minuman keras tanpa ijin.  Dari penggerebekan tersebut petugas menemukan 228 botol arak putih.

          Kapolsek Junrejo, Sutantyo mendampingi Kapolres Batu, AKBP M Sumartono membenarkan penggerebekan tersebut. "Kita kenai tindak pidana ringan," ujar kapolsek. Hari yang sama, petugas juga menggerebek rumah Kadi (67) warga Jl Damun, Beji, Kecamatan Junrejo. Kadi merupakan pengecer arak dibawah Sunaryo. Dirumah Kadi, polisi menemukan 2 botol arak.

        "Dari pengakuannya Kadi hanya mengambil satu dos arak saja, sudah dijual yang belum laku hanya 2 botol saja," papar petugas. Sunaryo mengaku mendapatkan arak putih ini dengan cara membeli di Tuban. Arak ini kemudian dijual secara eceran. Ia menggunakan Kadi sebagai tenaga pemasaran, namun Sunaryo juga menjual sendiri.

      Bahkan, seringkali pembeli datang sendiri ke rumah Sunaryo. Namun ia cukup selektif melayani pembeli, hal ini dilakukan agar usahanya tetap berlangsung. Satu botol miras ini dijual oleh kedua tersangka sebesar Rp 35 ribu. Kedua tersangka ini harus menjalani sidang tindak pidana ringan. Keduanya dijerat Pasal 4 Permenkes RI no 59/Menkes/PER/II/1982 junto psl 2 ayat 1 ord tentang bahan berbahaya. (memoarema)

Pisang Aneh Hebohkan Warga Tuban

Selasa, 06 Desember 2011 | 0 komentar

Pisang Ambon berbuah dua kali.
Tuban - Pohon pisang umumnya berbuah satu kali semasa hidupnya. Namun, pohon pisang milik Arni, 47 tahun) asal Kelurahan Sidorejo, Kecamatan Kota, Kabupaten Tuban, Jawa Timur, lain dari biasanya. Pisang berjenis Pisang Ambon tersebut, berbuah dua kali dan tumbuh pada bekas pohonnya yang berbusuk.

Tentunya, warga setempat langsung penasaran dan berduyung-duyung ingin melihat keanehan pisang milik Arni tersebut.  Pisang itu, baru pertama kali ada di kota Toak-sebutan kota Tuban. "Usia pisang saya ini baru satu minggu," kata Arni, Senin 5 Desember 2011.

Dia menuturkan, mengetahui pisangnya memiliki keanehan itu setelah diberitahu istrinya. Mulanya, Arni tidak percaya pisangnya bisa berbuah dua kali. Sebab, bekas pohonya yang sudah dipangkas dan membusuk bisa berbuah lagi. "Dulu sudah berbuah, kok sekarang tumbuh lagi. Padahal, pohonnya sudah membusuk," tuturnya.

Namun demikian, pisangnya yang masih kecil tersebut tidak akan dijual. Tetapi, akan dikonsumsi sendiri jika sudah siap dimakan. Sebab selama ini, ia dan keluarganya berkeinginan memakan pisang tersebut.

Arnii menambahkan, sebelum keluarganya mempunyai pisang aneh tersebut, ia bermimpi mengaji selama beberapa kali. "Saya selalu bermimpi mengaji terus, sebelum mengetahui ada pisang aneh ini," ujarnya. •VIVAnews.com

ARTI LAMBANG KABUPATEN TUBAN

Kabupaten Tuban memiliki lambang daerah yang dijadikan identitas diri. Disetiap gambar dari lambang kabupaten Tuban memilik pengertian masing masing. Dalam satu keutuhan akan menjadi ciri khusus (identitas) maupun cita0cita luhur Kabupaten Tuban.


ARTI PADA LAMBANG KABUPATEN TUBAN

Lambang kabupaten Tuban terbagi atas 8 bagian yaitu :

1. Bentuk Perisai Putih yang bersudut lima

Dengan jiwa yang suci murni dan hati yang tulus iklas masyarakat Tuban menjunjung tinggi Pancasila. Sekaligus merupakan perisai masyarakat dalam menghalau segenap rintangan dan halangan untuk menuju masyarakat adil dan makmur yang diridloi oleh Tuhan Yang Maha Esa.

2. Kuda Hitam dan Tapal Kuda Kuning

Kuda hitam adalah kesayangan Ronggolawe, pahlawan yang diagungkan oleh masyarakat Tuban karena keikhlasannya mengabdi kepada negara, watak kesatriannya yang luhur dan memiliki keberanian yang luar biasa. Tapal kuda Ronggolawe berwarna kuning emas melingkari warna dasar merah dan hitam melambangkan kepahlawanan yang cermelang dari Ronggolawe.

3. Gapura Putih

Melambangkan pintu gerbang masuknya Agama Islam yang dibawakan oleh “Wali Songo” antara lain Makdum Ibrahim yang dikenal dengan nama Sunan Bonang, dengan itikat yang suci murni dan hati yang tulus ikhlas, masyarakat Tuban melanjutkan perjuangan yang pernah dirintis oleh para “Wali Songo”.

4. Bintang Kuning bersudut lima

Rasa Tauhid kepada Tuhan Yang Maha Esa yang memancar didada tiap-tiap insan rakyat Tuban memberikan kesegaran dan ketangguhan iman, dalam berjuang mencapai cita-cita yang luhur.

5. Batu hitam berbentuk umpak dan pancaran air berwarna biru muda

Menunjukan dongeng kuno tentang asal kata Tuban. Batu hitam berbentuk umpak ialah Batu-Tiban dari kata ini terjadilah kata Tuban. Pancaran air atau sumber air ialah Tu-Banyu (mata ir) menjadi kata Tuban.

6. Pegunungan berwarna hijau, daun jati dan kacang tanah

Tuban penuh dengan pegunungan yang berhutan jati dan tanah-tanah pertanian yang subur dengan tanaman kacang tanah. Pegunungan berwarna hijau mengandung arti masyarakat Kabupaten Tuban mempunyai harapan besar akan terwujudnya masyarakat yang adil makmur yang diridloi Tuhan Yang Maha Esa.

7. Perahu emas, Laut biru dengan gelombang putih sebanyak tiga buah.

Sebelah utara Kabupaten Tuban adalah lautan yang kaya raya, yang merupakan potensi ekonomi Penduduk pesisir Kabupaten Tuban. Penduduk Pesisir utara adalah nelayan-nelayan yang gagah berani. Dalam kedamaian dan kerukunan masyarakat Daerah Kabupaten Tubanuntuk membangun daerahnya menghadapi tiga sasaran yaitu:
1. Pembangunan dan peningkatan perbaikan mental dan kerohanian.
2. Pembangunan ekonomi.
3. Pembangunan Prasarana yang meliputi jalan-jalan, air dsb.

8. Keterangan angka

1. Lekuk gelombang laut sebanyak 17 melambangkan tanggal 17.
2. Lubang tapal kuda berjumlah 8 melambangkan bulan Agustus.
3. Daun dan biji jati melambangkan angka 45.
dengan demikian masyarakat Kabupaten Tuban menjnjung tinggi hari Proklamasi Kemerdekaan Negara Indonesia. Semangat Proklamasi menjiwai perjuangan dan cita-cita masyarakat Kabupaten Tuban.

Di Kesempatan kali ini kami mencoba memposting tentang tempat wisata di Kabupaten Tuban

A. Goa Akbar

Goa akbar adalah salah satu tempat wisata yang cukup popouler di kabupaten tuban,tempatnya yang cukup strategis,yang tepatnya terletak di pinggir pasar baru tuban,sehingga banyak wisatawan yang berkunjung kesana,bukan hanya keelokan pemandangan(arsitektur batu,keindahan panorama dll) tapi juga karena tiket masuknya yang murah(Kurang dari 5ribu perak)

B.MAKAM SUNAN BONANG

Makam sunan adalah tempat wisata yang sangat sering di kunjungi oleh wisatawan atau warga tuban khususnya Umat islam karena selain untuk menikmati panorama yang ada di sekitarnya,juga merupakan tempat untuk berziarah,dan selain itu kita juga bisa membeli segala peralatan sholat disana

C. AIR TERJUN NGLIRIP

Tempat ini merupakan tempat wisata di tuban yang berada di kecamatan singgahan lokasinya yang dekat hutan dan memiliki pemandangan yang luar biasa indahnya menjadi daya tarik tersendiri di air terjun nglirip ini,selain itu di sini juga tidak di pungut biaya alias gratisssss.

D. MASJID AGUNG TUBAN

Masjid agung merupakan masjid yang terbesar di kabupaten Tuban selain digunakan untuk tempat beribadah juga bisa di gunakan untuk tempat singgah sementara bagi wisatawan dari luar kota,masjid ini lokasinya dekat alon-alon dan berdampingan dengan Makam Sunan Bonang,sehingga sering di sebut ‘Tiga Serangakai’ wisata Tuban.

E. KLENTENG KWAN SING BIO

Di Tuban juga ada Klenteng Kwan Sing Bio,Klenteng tersebut merupakan klenteng terbesar di Asia Tenggara jadi tidak mengherankan jika klenteng tersebut sangat banyak di kunjungi berbagai macam wisatawan,klenteng ini mempunyai keunikan antara lain adalah simbolnya,dimana umumnya simbol klenteng itu naga tapi klenteng Kwan Sing bio justru mempunyai simbol Kepiting,lokasinya yang menhadap ke laut juga mempunyai daya tarik tersendiri.

F. PEMANDIAN BEKTIHARJO

Bektiharjo merupakan salah satu wisata yang terletak di kecamatan semanding tuban,tempat ini banyak di minati oleh para remaja yang ada di wilayah tuban bahkan sampai di luar tuban karena selain digunakan sebagai tempat refreshing juga sebagai tempat Untuk pacaran,dan bektiharjo juga memiliki tempat pemandian yang cukup besar,mulai dari anak-anak sampai orang yang udah bau tanah atau alias udah kakek-kakek bisa kesana.

G. GOA NGERONG

Goa ngerong merupakan wisata yang terletak di kecamatan rengel alias tempat yang cukup tinggi dari kabupaten tuban tapi meskipun lokasinya agak tinggi kecamatan ini sering terkena banjir(Menurut teman kami rIski Toha),kadang – kadang wista ini sepi karena terhalang banjir,meskipun begitu tempat ini masih Eksis untuk menarik para wisatawan karena pemandanganya yang sangat indah(Tapi berhati-hatilah konon kalau ada seseorang yang mengambil ikan dari sana akan terkena kutukan 100tahun atau bisa-bisa anda Turex alias tidak laku kawin.

Category List

MARDIYAN RONGGOLAWE. Diberdayakan oleh Blogger.
PEMERINTAHAN

Kabupaten Tuban terdiri dari 19 kecamatan yaitu: Bancar, Bangilan, Grabagan, Jatirogo, Jenu, Kenduruan, Kerek, Merakurak, Montong, Palang, Parengan, Plumpang, Rengel, Semanding, Senori, Singgahan, Soko, Tambakboyo, Widang Sedangkan Kota Tuban sendiri terdiri dari 17 kelurahan yaitu :Doromukti, Sidorejo, Kingking, Kebonsari, Mondokan, Latsari, Sidomulyo, Karang Sari, Ronggomulyo, Baturetno, Sukolilo, Perbon, Sendangharjo, Kutorejo, Karang, Gedongombo, Panyuran

WISATA DAN CINDERAMATA

Di kota Tuban kita bisa mengunjungi beberapa obyek wisata, di antaranya Gua Akbar, Masjid Agung, Makam Sunan Bonang,Ngerong Rengel, Pemandian Bektiharjo, Air Panas Prataan, Air Terjun Nglirip,Goa Suci,Makam Syeh Maulana Ibrahim Asmaraqandi dan Pantai Boom. Cenderamata khas yang bisa dibeli adalah kain tenun (batikgedog) dengan motif yang sangat khas. Motif khas ini juga bisa kita temui dalam bentuk kaos, baju wanita, dan selendang. Disamping itu ada juga cinderamata berupa miniatur tempat berjualan Legen (minuman khas tuban) yang disebut "ONGKEK". Bentuknya seperti tempat berjualan Soto tetapi terbuat dari bambu. Miniatur ini banyak dijual di toko yang menjual oleh-oleh khas Tuban. Selain itu, Tuban juga terkenal sebagai kota Tuak (atau toak dalam bahasa lokal). Tuak adalah cairan (legen)dari tandan buah pohon lontar (masyarakat menyebutnya uwit bogor) yang difermentasikan sehingga sedikit memabukkan karena mengandung alkohol. Sedianya legen dibuat menjadi gula jawa, atau dapat juga langsung diminum sebagai minuman yang menyegarkan dan tentu saja, tidak memabukkan, selain itu buah dari pohon lontar (ental atau siwalan ) ini juga bisa dimakan dan berasa manis serta kenyal.

ASAL-USUL

Kota Tuban memiliki asal usul dalam beberapa versi yaitu yang pertama disebut sebagai TU BAN yang berarti waTU tiBAN (batu yang jatuh dari langit) yaitu batu pusaka yang dibawa oleh sepasang burung dari Majapahit menuju Demak, dan ketika batu tersebut sampai di atas Kota Tuban, batu tersebut jatuh dan dinamakan Tuban. Adapun versi yang kedua yaitu berarti meTU BANyu berarti keluar air, yaitu peristiwa ketika Raden Dandang Wacana (Kyai Gede Papringan) atau Bupati Pertama Tuban yang membuka Hutan Papringan dan anehnya, ketika pembukaan hutan tersebut keluar air yang sangat deras. Hal ini juga berkaitan dengan adanya sumur tua yang dangkal tapi airnya melimpah, dan anehnya sumur tersebut dekat sekali dengan pantai tapi airnya sangat tawar. Ada juga versi ketiga yaitu TUBAN berasal dari kata 'Tubo' atau Racun yang artinya sama dengan nama kecamatan di Tuban yaitu Jenu.

GEOGRAFI

Luas wilayah Kabupaten Tuban 183.994.561 Ha, dan wilayah laut seluas 22.068 km2. Letak astronomi Kabupaten Tuban pada koordinat 111o 30' - 112o 35 BT dan 6o 40' - 7o 18' LS. Panjang wilayah pantai 65 km. Ketinggian daratan di Kabupaten Tuban bekisar antara 0 - 500 mdpl. Sebagian besar wilayah Kabupaten Tuban beriklim kering dengan kondisi bervariasi dari agak kering sampai sangat kering yang berada di 19 kecamatan, sedangkan yang beriklim agak basah berada pada 1 kecamatan. Kabupaten Tuban berada pada jalur pantura dan pada deretan pegunungan Kapur Utara. Pegunungan Kapur Utara di Tuban terbentang dari Kecamatan Jatirogo sampai Kecamatan Widang, dan dari Kecamatan Merakurak sampai Kecamatan Soko. Sedangkan wilayah laut, terbentang antara 5 Kecamatan, yakni Kecamatan Bancar, Kecamatan Tambakboyo, Kecamatan Jenu, Kecamatan Tuban dan Kecamatan Palang. Kabupaten Tuban berada pada ujung Utara dan bagian Barat Jawa Timur yang berada langsung di Perbatasan Jawa Timur dan Jawa Tengah atau antara Kabupaten Tuban dan Kabupaten Rembang.Tuban memiliki titik terendah, yakni 0 m dpl yang berada di Jalur Pantura dan titik tertinggi 500 m yang berada di Kecamatan Grabagan. Tuban juga dilalui oleh Sungai Bengawan Solo yang mengalir dari Gresik menuju Solo

SUKU BUDAYA

Tuban mayoritas Suku Budayanya adalah Suku Jawa dan minoritas diantaranya adalah suku lain, seperti suku Madura, suku cina, suku Kalimantan, dll. Kebudayaan asli Tuban beragam, salah satunya adalah sandur. Budaya lainnya adalah Reog yang banyak ditemui di Kecamatan Jatirogo.

PENDIDIKAN

Kualitas Pendidikan di Tuban tergolong sangat baik. Terbukti dengan adanya 3 sekolah yang bertaraf internasional, antara lain, SMP Negeri 1 Tuban, SMA Negeri 1 Tuban, dan SMK Negeri 1 Tuban,SMP Negeri 3 Tuban serta puluhan SMP dan SMA yang bertaraf Nasional. Menurut rencana, ada 1 SD yang akan bertaraf internasional, yakni SD Negeri 1 Kebonsari dan 2 SMP, yakni , SMP Negeri 5 Tuban, dan SMP Negeri 1 Rengel. Berbagai event lomba di juarai oleh pelajar Tuban. Banyak diantaranya adalah sekolah yang berkecimpung dalam dunia Karya Ilmiah Remaja, diantaranya adalah MTsN Tuban, SMP Negeri 1 Tuban, SMP Negeri 3 Tuban, SMP Negeri 4 Tuban, SMP Negeri 6 Tuban, SMP Negeri 7 Tuban, SMP Negeri 1 Rengel, SMP Negeri 1 Jenu, SMP Negeri 1 Jatirogo, SMP Negeri 1 Singgahan,SMA Negeri 3 Tuban,SMA Negeri 1 Tuban, SMA Negeri 2 Tuban, MAN TUBAN, dll. Selain Universitas Sunan Bonang ada institut pendidikan tinggi baru, yaitu Universitas Ronggolawe, yang pada awalnya dikenal sebagai IKIP PGRI TUBAN di Jalan Manunggal. Jurusan bahasa Inggris dari institut ini telah kerjasama dengan sebuah organisasi sukarela Inggris yang bernama Voluntary Service Overseas sejak tahun 1989. Setelah tiga sukarelawan, organisasi lain, yaitu Volunteers in Asia yang berasal dari Amerika Serikat meneruskan tradisi ini dengan mengekspos mahasisiwa serta dosen yang kurang sempat berlatih bahasa sehari-hari. Ketua jurusan Bapak Agus Wardhono telah menjadi doktor (S-3) dalam bidang Linguistik Inggris di Universitas Negeri Surabaya.

DAERAH VITAL KOTA TUBAN

Sebagai Kabupaten, Tuban memiliki tempat penting seperti Kantor Bupati Tuban, Pendopo Kridho Manunggal (yang pernah dirusak dan dibakar massa), Kantor DPRD, Masjid Agung Tuban, GOR Rangga Jaya Anoraga, dll.

TUBAN TEMPOE DOELOE

Pemerintahan Kabupaten Tuban ada sejak tahun 1293 atau sejak pemerintahan Kerajaan Majapahit. Pusat pemerintahannya dulu adalah di Desa Prunggahan Kulon kecamatan Semanding dan kota Tuban yang sekarang dulunya adalah Pelabuhan karena dulu Tuban merupakan armada Laut yang sangat kuat. Asal nama Tuban sudah ada sejak pemerintahan Bupati Pertama yakni Raden Dandang Wacana. Namun, pencetusan tanggal harijadi Tuban berdasarkan peringatan diangkatnya Raden Haryo Ronggolawe pada 12 November 1293. Tuban dulunya adalah tempat yang paling penting dalam masa Kerajaan Majapahit karena memiliki armada laut yang sangat kuat.

TUBAN PADA MASA PENYEBARAN AGAMA ISLAM

Tuban tidak hanya menjadi tempat penting pada masa Kerajaan Majapahit, namun Tuban juga menjadi tempat penting pada masa penyebaran Agama Islam. Hal tersebut dikarenakan Tuban berada di pesisir Utara Jawa yang menjadi pusat Perdagangan arab, dll yang sedang menyebarkan Agama Islam. Hal ini juga berkaitan dengan kisah Sunan Bonang dan Sunan Kalijaga. Sunan Kalijaga adalah putra dari Bupati Tuban VIII Raden Tumenggung Haryo Wilotikto. Sunan Kalijaga dikenal sebagai Brandal Loka Jaya, karena sebelum jadi Wali Sunan Kalijaga adalah brandal (preman) yang suka mencuri hasil kekayaan Kadipaten Tuban. Namun, hasil curian tersebut untuk para Fakir Miskin. Lama-kelamaan, perbuatan tersebut diketahui oleh ayahanda Sunan Kalijaga dan diusir dari Kadipaten Tuban. Dalam pengasingannya, Raden Mas Syahid (Sunan Kalijaga) bertemu dengan Sunan Bonang. Sunan Bonang memiliki Tongkat emas yang membuat Raden Syahid menjadi ingin memiliki tongkat tersebut. Sesaat kemudian, Sunan Kalijaga merebut tongkat emas dan Sunan Bonang jatuh tersungkur. Sunan Bonang menangis dan Sunan Kalijaga merasa iba. Akhirnya Sunan Kalijaga mengembalikan Tongkat Sunan Bonang dan Sunan Kalijaga bertanya bagian mana yang membuat beliau kesakitan. Namun, Sunan Bonang menangis bukan karena kesakitan, tapi beliau menangis karena memutuskan rumput dan beliau berkata bahwa beliau merasa kasihan karena rumput yang tidak bersalah harus mati tercabut karena kesalahan beliau. Sesaat kemudian, beliau menancapkan Tongkat di Pesisir dan menyemburkan air. Tempat tersebut dinamai Sumur Srumbung. Setelah itu, Sunan Bonang menunjukkan Buah Aren yang berwarna emas. Raden Syahidpun tergoda dan memanjat pohon aren tersebut, tapi sebuah aren menimpa kepala beliau dan beliaupun pingsan. Setelah sadar, Raden Syahid diajak Sunan Bonang menuju Sungai di daerah Sekardadi Kecamatan Jenu. Di sana, beliau menjaga tongkat Sunan Bonang yang ditancapkan pada sebuah batu. Anehnya, beliau tertidur selama 2 tahun. setelah sadar, Raden Syahid diberi pakaian dhalang oleh Sunan Bonang dan di Juluki Sunan Kalijaga, maksudnya Kali dalam bahasa Indonesia berarti sungai, dan Jaga dimaksudkan karena sudah menjaga tongkat Sunan Bonang.

TUBAN PADA MASA PENJAJAHAN

Perjuangan masyarakat Tuban dalam melawan penjajah sangatlah gigih. Dengan bersenjatakan Bambu Runcing, mereka melawan penjajah. Namun, strategi masyarakat Tuban adalah dengan menggunakan Tuak, maksudnya, Penjajah disuguhi minuman memabukkan tersebut. Ketika mereka sudah tidak sadarkan diri, mereka menyerang dan menghancurkan pos dan benteng pertahanan penjajah.

TUBAN MASA KINI

Seiring kemajuan zaman, Tuban sekarang tidak sepenting dulu. Tuban sekarang sudah mulai dilupakan oleh masyarakat Indonesia, padahal Tuban mengandung nilai sejarah tinggi dan besar peran serta perjuangan masyarakat Tuban dalam melawan penjajah itu sudah mulai luntur dalam dunia pemerintahan Indonesia saat ini.

Tuban Merupakan Kota Semen pada masa sekarang, Semen Gresik yang terkenal besar di Indonesia pada masa sekarang juga beroperasi dan mendirikan pabrik di daerah Tuban. Selain itu di Tuban juga terdapat beberapa industri skala internasional, terutama dibidang Oil & Gas. Perusahaan yang beroperasi di Tuban antaralain PETROCHINA (di kecamatan Soko) yang menghasilkan minyak mentah, serta ada juga PT. TPPI & PERTAMINA TTU (di kecamatan Jenu)

Untuk pendidikan Tuban tidak kalah dengan daerah lain dipulau jawa, sudah sangat sedikit masyarakat Tuban yang buta huruf bahkan tinggal seberapa persennya, untuk pendidikan rata-rata masyarakat sudah mencapai pendidikan SMA.

H. MUSEUM KAMBANG PUTIH

Museum kambang Putih merupakan satu-satunya museum yang berada di kabupaten tuban,Lokasinya yang sangat strategis alias di tengah kota Tuban lebih tepatnya lagi bersebelahan dengan alon-alon,masjid agung,dan makam sunan bonang cukup ramai di kunjungi penduduk setempat dan juga wisatawan dari luar kota,di museum kambang putih kita akan menemukan sejarah-sejarah jaman dahulu yang berada di Kabupaten Tuban.

Ads 468x60px

  • Code Test

    Suspendisse neque tellus, malesuada in, facilisis et, adipiscing sit amet, risus. Sed egestas. Quisque mauris. Duis id ligula. Nunc quis tortor. In hendrerit, quam vitae mattis...

Bookmark Us

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites

Featured Posts Coolbthemes

Search Box

 
© Copyright 2010-2011 apakabartuban All Rights Reserved.
Template Design by Herdiansyah Hamzah | Published by Borneo Templates | Powered by Blogger.com.